Wednesday, March 22, 2006

Tragedi Cendrawasih

Kami hanya menyuarakan rakyat
Karena kami bisa merakyat
Tak seperti wakil rakyat yang bejat
Ungkap kubu mahasiswa dalam orasi yang tersekat


Kami hanya melaksanakan perintah
Dalam komando yang mewajibkan kami melangkah
Meski kita satu hati namun kami tak boleh kalah
Ungkap aparat keamanan yang mulai gerah


Kami hanya perantara pesan
Mengungkap fakta di balik tuntutan
Kami tak boleh berpihak meski pula ingin melawan
Ungkap wartawan kala berjuang melakukan peliputan


Di satu titik dimana emosi mengalahkan logika
Kami semua tak pernah tahu mengapa diserang dan saling serang
Pucuk pimpinan negara ini pun lantas beretorika
Naun jauh dari harapan dan tuntutan : sayang!


(Paris Van Djava, 18 Maret 2006, di depan layar kaca)



Dimuat dalam rubrik Galeri Puisi*Puisi Anggota* di www.puitika.net tanggal 21 Maret 2006 dan dimuat pula dalam topik Puisi di www.fordisastra.com tanggal 21 Maret 2006

Berselimut Asmara

Jarak tak lagi menghalangi raga
Di kamar ini tiada rahasia
Antaramu ....
Dan aku yang pasrah


Kita telah begitu sama
Menatap indah dalam samudera mata
Dimana hembusan nafasmu adalah cinta
Dekapmu jadi awal langkah kita


Pagi kemudian menyapa begitu cepat
Padahal kita masih berselimut asmara


Dimuat dalam rubrik Galeri Puisi*Puisi Anggota* di www.puitika.net
tanggal 19 Maret 2006

Sekeping Hati

Kau dalam secuil kisah hidupku
Melukis lara dan bahagia dalam rasaku
Tidakkah ingin kau miliki hatiku yang telah kau jaga
Di sudut batas mimpi ku nanti sebuah pasti


Sejak ku tinggalkan bahagia mencinta
Hanya ku harap teduh dalam kata petuahmu
Keping hati yang tersisa ini butuh kekuatan
Dan itu ada padamu, andai kau tahu


Dimuat dalam rubrik Galeri Puisi*Puisi Anggota* di www.puitika.net
tanggal 18 Maret 2006

Takdir Yang Tak Teringkari

Cinta tak dapat dipaksa
Aku pun tak mau dipaksa mencinta
Cinta tak harus saling memiliki
Aku pun tak ingin dimiliki oleh orang yang tak ku harap

Sepertimu ....
Hati yang tak dapat ku sentuh cinta

Cinta adalah tulus memberi tanpa mengharap kembali
Maka wajar bila tulus ku beri yang terindah padamu
Nyaman yang tak ku temukan pada sosok lain
Membuatku bertahan meski luka menganga akibat ulahmu

Dengannya akan ku jalani hidup bersama
Orang yang tak pernah mengeluh meski mendapat tempat di sudut yang tersisa
Karena hingga tangis tak dapat lagi mewakili perihku pun
Takdir ini tak akan pernah bisa ku ingkari

Dimuat dalam rubrik Galeri Puisi*Puisi Anggota* di www.puitika.net
tanggal 18 Maret 2006

Hikmah Dari Kisah Sedih Di Kampus UPI

Sebenarnya aku gak mau inget-inget lagi kejadian ini. Kalo diinget suka bikin nangis and bawaannya suka menyalahkan diri sendiri yang .... bisa dikatakan ..... BODOH.

Kisah ini bermula ketika aku terobsesi untuk memenangkan lomba baca berita bahasa Inggris yang diadakan oleh mahasiswa Sastra Inggris UPI Bandung. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMU, usia yang rentan dengan ambisi dan rasa bertualang yang tinggi.

Begini kronologisnya sodara-sodara setanah air ....

15 Desember 2003,
Aku memenangkan lomba baca berita bahasa Inggris antar kelas di sekolahku tercinta, SMU N 1 Garut sebagai juara ke-2. Kemudian pihak sekolah berencana merekomendasikan para pemenang untuk ikut lomba baca berita bahasa Inggris antar sekolah di Islamic Center Garut. Atas nama sekolah, aku ikut lomba itu dan ternyata .....KALAH.

JANUARI 2004 (tanggalnya lupa),
Aku mendapat tawaran dari Wakasek Kesiswaan untuk ikut lomba baca berita Bahasa Inggris yang diadakan oleh mahasiswa sastra Inggris UPI Bandung. Kali ini aku langsung mengatakan pada pihak sekolah bahwa aku akan berangkat sendiri, tanpa rekomendasi dari sekolah, dengan alasan, aku tidak mau merepotkan pihak sekolah lagi. Semua biaya, mulai dari transportasi, makan, dsb, aku akan tanggung sendiri. Aku malu kalau nantinya kalah lagi. Pihak sekolah tidak keberatan dengan niatku itu. Jadi aku pun mulai mempersiapkan diri untuk berangkat ke Bandung (SENDIRIAN).

FEBRUARI 2004 (tanggalnya benar-benar lupa),
Setelah mempersiapkan diri dengan matang, aku berangkat ke Bandung sendirian, dengan diiringi doa Ibu dan dukungan moril dari teman-teman dekat. Aku ingat banget, waktu itu aku bawa bekal nasi putih plus mie instan goreng buatanku sendiri. Aku sengaja bawa bekal makanan supaya gak beli makanan di tempat lomba (takut mahal). Aku periksa lagi barang-barang bawaanku, pakaian ganti (setelan jas mama yang aku pinjam untuk menambah wibawa saat lomba), mukena (karena aku muslim), dompet, naskah berita untuk lomba, dan yang terakhir, bukti pembayaran pendaftaran yang akan ditukar dengan kartu peserta nantinya.

Aku berangkat pagi banget supaya nggak kesiangan. Untung aku inget angkot yang harus aku naiki setibanya di Bandung (angkot Cicaheum-Ledeng). Sampai di UPI, aku masih harus jalan jauh untuk sampai ke tempat lomba (maklum, UPI kan luas banget). Setelah lelah berjalan, aku masih harus mengurusi kartu peserta yang tidak juga ditemukan atas namaku. Dua kali aku harus berganti nomor peserta karena kesalahan pencatatan (wah, belum apa-apa perasaanku sudah nggak enak begini)

Setelah urusan kartu peserta beres, aku memutuskan untuk berganti kostum (karena setelah di konfirmasi ke panitia, aku boleh pake setelan jas). Setelah ganti pakaian, sambil latihan lagi, aku juga memperhatikan satu persatu peserta yang tampil. Tiba-tiba, ada yang nyapa. Seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun yang mengaku sebagai pengamat dari sebuah lembaga independen (lupa lagi lembaganya apa-lagian emang sengaja di lupakan-).

Perempuan ini dengan setianya mengikuti kemana pun aku pergi. Serasa punya manajer aja dech. Dia membantu saat latihan, memberi motivasi, tapi juga diselingi curhat pribadi yang menyentuh (kebiasaan kaum hawa). Gak tau kenapa, aku percaya banget sama dia, sampai-sampai ketika namaku dipanggil untuk tampil ke depan juri, aku menitipkan tasku tanpa rasa curiga sedikit pun.

Setelah tampil, aku mengajaknya sholat dzuhur. Dia ikut aja ke masjid. Aku benar-benar nggak curiga sama dia, makanya aku nggak periksa isi tasku. Tapi begitu sampai di masjid, dia pamit mau nelpon temannya dulu. Aku sih mempersilahkan aja. Dan sekali lagi, nggak ada "feeling" apapun waktu dia berjalan meninggalkan aku.

Setelah setengah jam nggak muncul-muncul, aku mulai curiga. Dengan nafas memburu aku periksa isi tas, dan benar saja ketika dompet ku buka, uangku sudah berkurang. Yang aku ingat, di dompetku ada uang 98 ribu rupiah. Yang dia sisakan cuma 8 ribu perak!!!!! Spontan aku menangsis karena baru nyadar kalau dari tadi aku adalah sasaran seorang penipu kelas teri.

Dengan wajah tak tahu malu, aku menangis di masjid UPI. Alhasil beberapa menit kemudian para mahasiswi UPI yang jilbaber mendekati dan bertanya kenapa aku menangis. Dengan polosnya aku menceritakan semua yang terjadi tanpa di kurangi sedikit pun.

Aku nggak nyangka, ternyata para mahasiswi itu langsung bergerak mengumpulkan uang agar aku bisa pulang ke Garut (saat itu aku masih domisili di Garut). Dan tanpa ku duga, uang yang terkumpul lebih banyak dari jumlah uang yang hilang. Benar-benar suatu kejaiban. Walaupun aku senang uangku kembali bahkan lebih, tapi yang membuatku sedih adalah aku tidak menang lomba dan aku maluuuuuuu banget jadi pusat perhatian se-antero masjid UPI, hiks hiks.

Dalam perjalanan pulang ke Garut, aku merenung. Memikirkan kebodan-kebodohanku yang kalau ku daftar kira-kira begini :

1. Aku menolak tawaran pihak sekolah untuk difasilitasi. Akibatnya aku berangkat ke Bandung sendirian, dengan biaya sendiri. Padahal murid-murid lain dibiayai dan ditemani para supporter. Tadinya aku takut, kalau aku berangkat atas rekomendasi dan fasilitas sekolah, maka hadiah yang akan ku dapat nanti akan jadi milik sekolah. Tapi kalau sendiri kan aku bawa sendiri hadiahnya ke rumah. Itulah akibatnya orang sombong. Akhirnya kalah juga kan lombanya?

2. Ternyata aku gampang di tipu cuma gara-gara tampang yang meyakinkan. Aku menitipkan tas pada orang yang baru ku kenal. Aku juga nggak tanggap pada gerak-geriknya yang ternyata kalau di runut cukup mencurigakan. Kalau memang pengamat, kenapa cuma aku yang diikuti????? Lalu ngapain dia nemenin latihan dan sampai pake acara curhat-curhatan segala?????

3. Aku orangnya paling suka mendramatisir keadaan. Masa se-antero masjid UPI tahu kalo aku abis di curi dan di bohongi? Kebodohan yang sangat diumbar ......

Akhirnya aku kembali ke Garut dengan pelajaran berharga dari pengalaman pahit yang tak akan terlupa seumur hidup. Semoga jadi hikmah bagi siapapun yang menyimak kisah ini ....


Hari Puisi Sedunia

BIAR

Biarkan aku tetap memelukmu dalam tahta benakku
Jika dalam nyata kita tak mungkin satu

Ku cinta kau lebih dari kisah lalu
Menjaga hatiku agar tak terduakan

Tapi lakumu tak seindah tuturmu
Ia hadir dalam kisah kita, mengapa?


KEPADA SANG PENCIPTA CINTA

Aku yang menari di atas perasaanku
Terlena pada fana dan bahagia sesaat nan semu
Tapi Kau masih mencintaiku
Padahal aku melupakan-Mu

Teguran nan halus dalam pedih kisahku
Siratkan Maha Kasih-Mu padaku yang tak tahu malu
Harusnya ku cinta Engkau lebih banyak
Maafkan aku yang baru kini terbuka mata



WAKTU MENEGURKU

Usiaku makin bertambah
Jatah hidup pun makin berkurang
Tapi tetap ku biarkan waktu mengalir deras
Tanpa berbuat suatu apa

Ketika waktu menegurku di ujung alur
Makin ku paham tak ada arti dari hadirku di dunia
Apakah diterima maaf dan taubatku?
Waktu jua yang kan menjawab



(Puisi-puisi yang diikutsertakan untuk di kolaborasikan dalam kumpulan 1000 Puisi di Web Apresiasi Sastra dalam rangka memperingati Hari Puisi Sedunia, 21 Maret 2006)

Tuesday, March 21, 2006

Merayakan Valentine? I Don't Think So

Oke, sebelum ngobrol panjang lebar, alangkah baiknya kita bahas dulu sejarah Valentine.

Dari namanya saja, perayaan Hari Kasih Sayang ini serasa memiliki perpaduan sebuah tradisi yang bernuansa Kristiani dan Roma kuno. Ada beberapa versi mengenai legenda dari sosok Valentine ini.Dahulu, seorang pemimpin agama Katolik bernama Valentine bersama rekannya Santo Marius secara diam-diam menentang pemerintahan Kaisar Claudius II kala itu. Pasalnya, kaisar tersebut menganggap bahwa seorang pemuda yang belum berkeluarga akan lebih baik performanya ketika berperang. Ia melarang para pemuda untuk menikah demi menciptakan prajurit perang yang potensial.

Nah, Valentine tidak setuju dengan peraturan tersebut. Ia secara diam-diam tetap menikahkan setiap pasangan muda yang berniat untuk mengikat janji dalam sebuah perkawinan. Hal ini dilakukannya secara rahasia. Lambat laun, aksi yang dilakukan oleh Valentine pun tercium oleh Claudius II. Valentine harus menanggung perbuatannya. Ia dijatuhi hukuman mati. Ada sebuah sumber yang menceritakan bahwa ia mati karena menolong orang-orang Kristen melarikan diri dari penjara akibat penganiayaan.

Dalam legenda ini, Valentine didapati jatuh hati kepada anak gadis seorang sipir, penjaga penjara. Gadis yang dikasihinya senantiasa setia untuk menjenguk Valentine di penjara kala itu. Tragisnya, sebelum ajal tiba bagi Valentine, ia meninggalkan pesan dalam sebuah surat untuknya.

Ada tiga buah kata yang tertulis sebagai tanda tangannya di akhir surat dan menjadi populer hingga saat ini-From Your Valentine. Ekspresi dari perwujudan cinta Valentine terhadap gadis yang dicintainya itu masih terus digunakan oleh orang-orang masa kini. Akhirnya, sekitar 200 tahun sesudah itu, Paus Gelasius meresmikan tanggal 14 Febuari tahun 496 sesudah Masehi sebagai hari untuk memperingati Santo Valentine.

Versi lain tentang Valentine dimulai pada zaman Roma kuno tanggal 14 Febuari. Ini merupakan hari raya untuk memperingati Dewi Juno. Ia merupakan ratu dari segala dewa dan dewi kepercayaan bangsa Roma. Orang Romawi pun mengakui kalau dewi ini merupakan dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan. Dan sehari setelahnya yaitu tanggal 15 Februari merupakan perayaan Lupercalia.

Kala itu, anak-anak lelaki dan perempuan harus dipisahkan satu sama lain. Namun, pada malam sebelum Lupercalia, nama-nama anak perempuan Romawi yang sudah ditulis di atas kertas dimasukkan ke dalam botol. Nah, setiap anak lelaki akan menarik sebuah kertas. Dan anak perempuan yang namanya tertulis di atas kertas itulah yang akan menjadi pasangannya selama festival Lupercalia berlangsung keesokan harinya. Kadang-kadang, kebersamaan tersebut bertahan hingga lama. Akhirnya, pasagan tersebut saling
jatuh cinta dan menikah di kemudian hari.

The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentines Day. Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi namanama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus
Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, subjudul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentines Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book
Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St.Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa St. Valentine termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St.Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa
St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan Be My Valentine? Ken Sweiger dalam artikel Should Biblical Christians Observe It? (www.korrnet.org) mengatakan kata Valentine berasal dari Latin yang berarti : Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi to be my Valentine, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi Sang Maha Kuasa) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut Syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod the hunter dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Nah, intinya adalah bahwa, berhubung sejarah Velentine berhubungan dengan budaya Barat dan non Islam, aku pribadi menolak merayakannya. Adapun kalau berbicara tentang makna valentine yang identik dengan kasih sayang, Kalo cuma ikut-ikutan tanpa tau sejarah dan makna valentine, maka teman-teman termasuk orang yang merugi, karena melakukan sesuatu yang sama sekali gak berguna.

Kasih sayang bisa kita sampaikan tiap hari, gak perlu nunggu hari Valentine. Kalau setiap orang bisa menebar kasih sayang setiap hari bagi sesama manusia, mungkin gak akan ada lagi anak-anak jalanan, pengemis, de-el-el. Semua bisa hidupbahagia karena mendapat kasih sayang yang selama ini jauh dari kehidupan nyata mereka.

Mari sama-sama bercermin, apakah kita sudah memberikan kasih sayang bagi orang-orang yang telah menyayangi kita, sebelum kita beranjak untuk menyayangi orang asing. Apakah selama ini kita termasuk orang yang hanya sayang pada diri sendiri?

Jangan mengobral kasih sayang di jalanan bersama kekasih saja, sementara di sekitar teman-teman masih ada yang mengemis kasih sayang. Kalau memang berniat berbagi kasih sayang, mari sama-sama kita memberi kasih sayang bagi mereka yang membutuhkan. Tidak hanya di hari Valentine, tapi setiap hari sepanjang sisa umur kita, agar kasih sayang itu merefleksi dengan utuh dan bermakna.

Dan kita semua dapat bersatu dalam:
Indahnya Kasih Sayang .........


Dimuat dalam rubrik Essai dan Opini di www.penulislepas.com tanggal 14 Februari 2006

Bimbo, Dahulu dan Kini

Lebih kurang 38 tahun Grup Musik Bimbo berkarya di Blantika Musik Indonesia. Lebih dari 600 buah lagu telah tercipta dan telah mencetak 12 piringan emas. Bimbo juga pernah mendapat penghargaan khusus dari Presiden Rusia dan Amerika atas eksistensi di dunia musik. Hingga kini Bimbo tak hanya sibuk manggung, tetapi juga masih aktif menghasilkan album rekaman. Berikut ini kabar terbaru dan kisah perjalanan karir Bimbo berdasarkan penuturan Syamsuddin D. Hardjakusumah, pendiri Bimbo ketika ditemui di kediamannya di Bandung.

Setelah hari raya Idul Fitri tahun ini, Bimbo berencana launching album baru bertema Reborn. Album baru ini berisi 24 lagu pop yang terdiri atas lagu baru dan lagu lama Bimbo. Launching akan diadakan di Jakarta (hotel Ambara) dan Bandung (Pendopo Kotamadya). Selama 3 tahun terakhir, Bimbo telah merekam ulang 120 lagu lama mereka, karena Bimbo memang berniat merekam ulang seluruh lagu lama. Meskipun jumlah total lagu masih belum dapat dipastikan, namun diperkirakan semua lagu akan selesai direkam ulang sampai 12 tahun mendatang. Sepanjang sejarah grup musik di Indonesia, Bimbo adalah grup musik pertama yang merekam ulang total lagu-lagu lama tanpa merubah aransemen awal lagu. Untuk itulah album Bimbo bertema Reborn, karena Bimbo merasa seperti terlahir kembali.

Tahun 1967, Bimbo terbentuk sebagai grup musik beranggotakan Syamsuddin D Hardjakusumah (Sam), Darmawan Hardjakusumah (Acil), Jaka Hardjakusumah (Jaka), dan Iin Parlina. Kala itu, hanya dengan menggunakan 3 buah gitar akustik, Bimbo membawakan lagu-lagu beraliran Cokek (Betawi Minor, Cianjuran). Setiap kali manggung, Bimbo masih membawakan lagu-lagu milik penyanyi atau grup musik lain.

Dulu keadaan masih serba sulit. Untuk manggung dari satu kota ke kota lain, Bimbo harus rela naik truk. Bahkan tidur pun di dalam truk tersebut. Saat itu, perlengkapan untuk manggung masih seadanya. Gitar listrik dan microphone bahkan pernah dibuat sendiri. Microphone dimodifikasi dari jaring serangga yang ditutupi kain. Karena saat itu, yang memiliki microphone hanya RRI. “Meskipun begitu, dulu para penonton sangat menghormati pertunjukan musik. Ketika penyanyi mulai menyanyi, semua penonton langsung diam, menyimak, dan meresapi. Penonton baru tepuk tangan kalau lagu telah selesai,” curhat Sam. Maka, sound system sederhana pun sudah cukup untuk suatu pertunjukan. Tapi keadaan sekarang telah berbeda. Ketika penyanyi mulai menyanyikan lagu, penonton langsung berteriak histeris, atau ikut bernyanyi, ada pula yang yang malah ngobrol sendiri membicarakan sang artis. Jadi wajar jika zaman sekarang suatu pertunjukan membutuhkan sound system yang lebih modern dan komplit.

Tahun 1971, Bimbo masuk dapur rekaman. Sebuah “Keterpakasaan” mendorong Bimbo untuk dapat merekam lagu-lagu milik Bimbo sendiri. Pasalnya, dulu masih sangat jarang ada grup musik yang dapat membawakan lagu-lagunya sendiri. Maka dengan mencipta lagu sendiri, Bimbo dapat selangkah lebih maju dari grup musik lainnya. Sam dan Jaka yang lebih banyak berperan dalam mencipta lagu, meski aransemen dikerjakan bersama. Tapi memang tak hanya Sam dan Jaka, Titik Puspa dan musisi lainnya pun ikut “menyumbangkan” karyanya untuk Bimbo.Debut album perdana langsung meledak di pasaran. Dalam tangga lagu RRI, urutan 1 sampai 6 diduduki oleh lagu-lagu Bimbo. Di tahun yang sama, Bimbo sempat rekaman di Singapura. Dan untuk melengkapi musikalitas, Bimbo menambahkan orkestrasi ketika rekaman di Jepang pada tahun 1986.

Bimbo tak pernah membatasi aliran musik yang dibawakan. “Warna musik Bimbo seperti pelangi,” ungkap Sam. Bimbo memang bisa membawakan lagu pop hingga lagu-lagu qasidah. Tema lagu juga bisa beragam, tak melulu mengangkat cinta sepasang kekasih. “Meskipun ada lagu-lagu yang bertema seperti itu, tapi liriknya tidak cengeng,” ujar Sam. Dengan jiwa yang selalu kritis, Bimbo mengangkat tema seputar kritik sosial, seperti tentang lingkungan hidup dan situasi politik Negara. Lagu-lagu Islami juga tak luput disenandungkan. Bahkan hingga saat ini, lagu-lagu bernafaskan Islam tersebut masih terus mengalun setiap kali Bulan Ramadhan tiba. Hingga Bimbo mendapat cap sebagai Grup Musik Islami. “Saya menganggap cap itu sebagai karunia, nikmat yang harus disyukuri. Otomatis hal ini jadi berpengaruh pada sikap dan perilaku Bimbo sehari-hari. Coba kalau di usia kami saat ini kami di cap sebagai rocker kan susah kalau harus teriak-teriak dan loncat-loncat,” kata Sam.

Dalam mencipta lagu, sam mengaku tidak pernah mengkhususkan diri untuk merenung. Inspirasi lagu bisa ia dapatkan tanpa terduga. Seperti ketika di jalan ia melihat tukang becak, maka terciptalah lagu “Tukang Becak”. Lagu “Tuhan” yang hampir tiap bulan Ramadhan disenandungkan, tercipta ketika Sam berada di dalam masjid. Dari kepekaan tersebut, terciptalah lagu-lagu Bimbo yang monumental namun tak usang dimakan zaman. Menurut Sam, begitulah seharusnya seorang musisi, selalu peka terhadap keadaan disekitarnya. Fenomena alam maupun sosial yang dilihat, didengar, dan dirasakan baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain kiranya dapat menjadi bahan untuk dituangkan ke dalam lagu.

Namun apresiasi terhadap osrisinalitas sebuah lagu masih belum maksimal di Negara kita. Sejak tahun 1973, lagu-lagu Bimbo telah banyak yang diputar di beberapa supermarket, hotel, dan restaurant di hampir seluruh wilayah Indonesia. Namun royalti yang diterima Bimbo dari KCI hanya dari 3 kota, itupun hanya yang sempat terkoordinir. Belum lagi ditambah dengan kehadiran para pembajak yang mengedarkan karya Bimbo tanpa izin. Contoh kasusnya, sejak tahun 1979, PT Remaco melakukan perekaman ulang, menggandakan, dan memperdagangkan secara luas karya cipta Bimbo yang dihasilkan sejak tahun 1973 sampai 1978 dalam bentuk kaset lagu, tanpa sepengetahuan dan izin/lisensi tertulis dari Bimbo.

PT Remaco juga membuat dan atau mengedarkan cover album lagu-lagu ciptaan Bimbo yang gambarnya tidak mencerminkan karakter dan isi lagu-lagu maupun gambar foto personel Bimbo. Bahkan dalam perubahan desain label tersebut terkesan melecehkan eksistensi Bimbo, antara lain dipersamakan seakan-akan sebagai sosok cowboy. Hak edar lagu dan musik Bimbo juga dialihkan kepada pihak yang tidak berhak. Untuk semua pelanggaran itu, Bimbo mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada bulan April 1999.

Contoh kasus tersebut termasuk pembajakan yang masih ketahuan dan dapat digugat secara resmi. Namun di luar sana, masih banyak pembajak liar yang tak dapat dilacak, yang telah mengambil keuntungan dari karya cipta Bimbo selama puluhan tahun. Hal ini jelas membuat Bimbo, terutama Sam kecewa. “ Harapan saya, Indonesia bisa tertib,” sahut Sam. Jelas saja belum tertib, belum ada ketegasan dari pemerintah untuk menindak pembajakan, baik berupa peraturan maupun tindakan nyata yang berkesinambungan. Pelaksanaan memberantas pembajakan sejak dulu masih timbul tenggelam. Setelah diberantas, beberapa waktu kemudian pembajakan muncul lagi, bahkan lebih menjamur.

Untunglah hingga kini Bimbo masih tetap dapat berkarya di Blantika Musik Indonesia, meski usia telah semakin menua, dan masalah yang dihadapi juga tetap saja ada. Kini Sam memproduseri album Bimbo yang berada di bawah label HP Records dan manajemen Bimbo dipegang sendiri oleh puteri-puteri personel Bimbo. Memang lebih enak jika manajemen diurusi oleh pihak keluarga sendiri. Pasalnya, Sam sudah mulai lupa syair lagu yang akan dinyanyikan. Disinilah peran manajer terasa. Dengan sabar, puteri Sam menuliskan syair lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Tentunya, hal-hal lain juga akan dapat termanage dengan lebih baik, untuk mendukung kelangsungan karir Bimbo.

Dimuat di rubrik Flashback Tabloid E-Music dan dimuat pula dalam rubrik Jurnalistik di www.penulislepas.com
tanggal 21 Desember 2005

Ketika Idealisme Wartawan Dipertanyakan

Wartawan amplop……wartawan bodrex……dan entah apa lagi istilahnya……bagaikan setetes racun yang merusak susu sebelanga. Wartawan…..yang seharusnya dapat menjadi pilar ke-empat demokratisasi di Indonesia, justru telah banyak yang menghancurkan demokratisasi itu sendiri.

Kita bisa mendapati dimana goresan pena sang wartwan ternyata penuh dengan tipu daya, provokasi, dan hal-hal yang sebenarnya justru harus dihindari oleh sang wartawan. Berada di wilayah netral, hanya mengemukakan pendapat pihak pro dan kontra, kemudian membiarkan pendapat publik berkembang di permukaan, sudah tidak lagi menjadi kewajiban.

Kini wartawan justru banyak yang merasa wajib untuk mengadu domba. Isu-siu yang jauh dari kebenaran, asalkan mengumbar sensualitas, diangkat dan dipublikasikan. Hal ini jelas karena faktor ekonomi. Dengan mengumbar sensualitas, maka oplah pun bertambah. Ketika oplah naik, gaji atau minimal honor si wartawan pun akan naik pula.

Bagaimana dengan wartawan amplop? Banyak wartawan yang merasa hebat dengan profesinya. Dan ia bisa menjual “gelar wartawan” itu demi keuntungan pribadi. Namanya juga wartawan, bisa memperoleh informasi dengan mudah. Informasi itulah yang kemudian ia jual untuk memeras orang lain yang akan rugi jika informasi tersebut di publikasikan. Atau ada pula wartawan yang hanya mau liputan apabila ia dibayar oleh yang punya event atau dibayar oleh seorang yang ingin menjadi tenar, sehingga dengan segala kemampuan yang dimiliki, sang wartawan mau menipu publik. Mengatakan bahwa sang tokoh adalah orang yang “bersih” padahal banyak hal memalukan yang telah dilakukan si tokoh bahkan perbuatannya telah merugikan banyak orang. Betapa teganya si wartawan tersebut melakukan kebohongan publik, demi kesenangan sesaat! Alangkah hinanya ia menjual harga diri demi lembaran uang yang akan habis dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sementara jika sang wartawan dapat mengemban tugasnya yang mulia dengan penuh tanggung jawab, maka ia akan membawa amal tersebut sampai akhir hayat bahkan sampai ia berada di akhirat. Karena dengan segala kelebihan yang Allah SWT anugerahkan padanya, seorang wartawan seharusnya dapat memeberikan banyak informasi penting demi kelangsungan hidup masyarakat. Misalnya menulis tentang pendidikan, kesehatan, teknologi, dan masih banyak lagi. Wartawan juga dapat melakukan syiar agama, mengajak kepada kebaikan. Banyak sekali yang dapat ditulis sang wartawan, yang bisa membuat masyarakat tergugah, terutama dalam hal kemanusiaan, moralitas bangsa, bahkan tanpa disadari oleh masyarakat itu sendiri.

Ketika idealisme wartawan dipertanyakan, hanya sang wartawan yang dapat menjawab, apakah ia pantas menyebut diri sebagi wartawan. Karena senua orang bisa menjadi wartawan, tapi tidak semua orang bisa menjadi wartawan yang benar-benar wartawan. Yang bekerja dengan nuraninya, mampu berjuang dengan goresan penanya! Bukan hanya menjadi kuli tinta, yang kemudian diperbudak oleh uang!


Dimuat dalam rubrik Essai dan Opini di www.penulislepas.com tanggal 19 Desember 2005