Merantau bagi rakyat Indonesia adalah hal yang biasa, malah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang merasa tidak bisa berkembang di tanah kelahirannya sendiri. Bahkan tidak sedikit rakyat Indonesia yang pergi jauh ke luar negeri untuk bekerja, atau menimba ilmu. Maka tradisi mudik pun mengiringi orang-orang yang merantau ini. Mereka yang jauh dari keluarga selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tidak akan melewatkan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga di hari Raya, yang datang hanya sekali dalam setahun. Hari libur yang dinikmati secara bersamaan oleh jutaan pemudik di seluruh Indonesia inilah yang membuat arus mudik dan arus balik selalu jadi berita utama semua media massa saat hari Raya Idul Fitri tiba.
Hari Idul Fitri adalah momen yang tepat untuk berkumpul kembali bersama keluarga, teman-teman lama, untuk kembali menjalin silaturahmi, kembali membersihkan hati dengan saling bermaafan. Masakan khas Lebaran , kue-kue, dan minuman khas yang hanya ada di kampung halaman, melengkapi kebersamaan itu. Siapa yang tak tergiur? Siapa yang tak rindu?
Tapi bagaimana dengan orang-orang yang kurang beruntung, yang tidak bisa mudik di hari spesial tersebut? Baik karena alasan pekerjaan, alasan kesehatan, atau bahkan karena alasan biaya?
Karyawan-karyawan yang bekerja di bidang pariwisata seperti hotel dan tempat-tempat wisata, mungkin belum beruntung karena tak bisa mudik tepat di hari Raya tiba. Saya sendiri merasakannya tahun ini. Mungkin masih banyak karyawan bidang lain yang juga tidak bisa merasakan nikmatnya mudik seperti bidang telekomunikasi, transportasi, dan pelayanan publik lainnya yang justru sangat sibuk di hari Raya. Mungkin pelanggaran hak asasi ketika orang lain menikmati masa liburan, kami justru bekerja. Tapi jika dijalani dengan ikhlas, bagi saya bekerja di hari Raya sungguh berkah. Saya bisa melayani masyarakat di saat mereka sedang merayakan kemenangan, sedang merasakan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga. Itu suatu pengalaman yang sungguh nikmat jika disyukuri.
Selain itu, bagi karyawan-karyawan yang bekerja di bidang jasa seperti kami, biasanya akan diberi mudik pengganti di hari lain, bisa satu minggu atau dua minggu setelah hari Raya. Kalau dilihat dari sisi positifnya, kami justru lebih beruntung karena kami mudik di saat jalan raya sudah kembali normal. Kami tidak harus terjebak berjam-jam dalam kemacetan, tidak harus sibuk mengantri tiket transportasi apapun, juga tidak akan mengalami resiko berdesakan di kendaraan umum. Harga tiket juga sudah mulai normal. Intinya kami tetap bisa mudik, bahkan mudiknya lebih menyenangkan, meski bukan tepat di hari Raya.
Untuk yang tidak mudik karena alasan kesehatan, mungkin juga bisa mudik di hari lain setelah kondisi kesehatannya pulih. Intinya mudik adalah berkumpul bersama keluarga, jadi bukan di hari Raya pun, kumpul keluarga tetap punya porsi yang khusus di hati kita. Datang mengunjungi keluarga dalam keadaan sehat dan gembira tentu lebih baik dan lebih membawa kebahagiaan bagi keluarga, dibandingkan memaksakan diri untuk datang tapi malah merepotkan semua orang. Setidaknya itu pendapat saya pribadi.
Sedangkan bagi yang tidak mudik karena alasan biaya, mungkin bisa ditunda sampai tahun depan atau tahun depannya lagi. Selalu ada jalan kalau ada kemauan. Keinginan yang kuat untuk berkumpul bersama keluarga akan memotivasi kita untuk bekerja lebih keras, lebih displin menabung, sehingga akhirnya bisa mudik di hari Raya.
Mudik sudah menjadi tradisi bagi rakyat Indonesia dan selamanya akan menjadi tradisi selama rakyat Indonesia masih mempertahankan keinginan merantau, mengubah nasib di negeri orang. Tapi mudik bukanlah harga mati, karena inti dari mudik adalah silaturahmi, menjalin kembali komunikasi yang mungkin lama terputus karena kesibukan dan lain-lain. Tidak bisa mudik bukan alasan untuk tidak menghubungi keluarga. Komunikasi bisa terus terjalin lewat kartu lebaran, surat, sms, telepon, bahkan kini dengan teknologi kita bisa chatting dengan webcam sehingga bisa melihat wajah keluarga kita yang jauh di sana.
Selamat Idul Fitri 1431 H. Mohon Maaf Lahir Batin. Semoga kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang meraih kemenangan setelah satu bulan berpuasa, sholat, berzakat, sedekah, meminta ampunan pada Allah SWT, dan kini saatnya meminta maaf kepada sesama manusia. Betapa lengkapnya momen Ramadhan dan Idul Fitri ini terangkai.
Selamat menjadi manusia baru, yang lebih baik dari hari ke hari …..
-----Rose Pr1ncess------
No comments:
Post a Comment