Kekuatan cerpen-cerpen Tenni ada pada kesederhanaan penyampaian, dari balik persoalan-persoalan sosial sehari-hari yang kompleks. Kesederhanaan berpikir itu mengajak pada “kemurnian” dan hakikat. Dan itu bisa dimulai oleh siapa saja dengan mensarikannya dari pengalaman-pengalaman pribadi, seperti yang dilakukan Tenni.
Ini bukan kumpulan cerpen romansa muda-mudi picisan—meski tak ada yang salah dengan menjadi picisan—tapi ini adalah cara seorang pemudi membaca dan manafsirkan dunia yang mengitarinya.
Pandangan ini barangkali menjadi duta bagi jutaan generasi seusianya, dalam memandang—semisal—korupsi (Sahabat Sejati), kesenjangan sosial (Malaikat Jalanan) atau pencarian jatidiri kaum muda, yang digambarkan dalam cerpen “Luka”.
Ini bukan kumpulan cerpen romansa muda-mudi picisan—meski tak ada yang salah dengan menjadi picisan—tapi ini adalah cara seorang pemudi membaca dan manafsirkan dunia yang mengitarinya.
Pandangan ini barangkali menjadi duta bagi jutaan generasi seusianya, dalam memandang—semisal—korupsi (Sahabat Sejati), kesenjangan sosial (Malaikat Jalanan) atau pencarian jatidiri kaum muda, yang digambarkan dalam cerpen “Luka”.
----Dandhy Dwi Laksono, Jurnalis Televisi, Pernah Bekerja di SCTV dan RCTI----
----Denny Sumargo, Pebasket Nasional, Enterpreneur Bisnis----
menekuni dunia baca - tulis. Karya tulis Tenny ..... (judul buku Tenny)..... menunjukan karakter gadis muda yang memiliki integrasi kepribadian yang kokoh. Maju...Maju terus Tenny.
----Martin Siregar, Pemerhati Karya Tulis----
Dan simak pula Kata Pengantar dari Rosianna Silalahi, Jurnalis Televisi berikut ini :
Sastra adalah sebentuk ikhtiar untuk mengatasi keterbatasan yang dapat ditampung suatu karya yang melulu bertumpu pada fakta, seperti jurnalisme misalnya. Karena itu pada mulanya sastra sepenuhnya “bukan fakta” alias fiksi. Namun, fakta bukan tak mungkin menyelinap dalam karya sastra seperti novel, roman, atau cerita pendek. Kita tahu karya Pramoedya Ananta Toer atau sastrawan “angkatan terkini” seperti ES Ito acapkali - kalau tidak boleh dikatakan intens – bergelut dengan sejarah. Sastrawan kadang menempatkan dirinya sebagai jembatan penyambung antara “yang bukan fakta” dengan “fakta”.
Pun demikian, tugas sastra ini – dan ini tampaknya diterima umum – sesungguhnya adalah melampaui fakta. Sastrawan sangat menghindari kisah klise yang tak memberikan pencerahan pada khalayak. Sastra yang berhasil mungkin sekali bukan sesuatu yang umum, tapi tetap bertenaga dan menerbitkan insight kepada pembacanya.
Apa yang dilakukan penulis adalah semacam eksperimen untuk berlabuh ke jantung sastra itu. Eksperimennya lumayan berhasil pada cerpen berjudul “Malaikat Jalanan”. Disini pembaca bakal ketemu tokoh Angel, anak jalanan berusia sembilan tahun yang tiba-tiba menjadi pelaku penculikan anak. Tak ada deskripsi bagaimana bocah ini menculik anak-anak orang kaya. Yang jelas Angel harus berhadapan dengan hukum akibat perbuatannya itu. Polisi menahannya, ia pun dipenjara. Di sel, Angel berubah jadi anak pendiam – nyaris seperti tuna wicara. Bahkan seorang aktivis yang menawarkan bantuan hukum padanya tak mampu membuat Angel berhenti “puasa bicara”. Setiba di sel, ia lebih suka tinggal di sana ketimbang di luar.
Di depan hakim, segalanya tersingkap. Angel – yang nama aslinya Eneng – mengaku menculik anak-anak orang kaya karena tidak tahan menyaksikan anak-anak itu kurang bersyukur atas segala fasilitas yang disediakan orang tua mereka. Mereka bisa sekolah dan diantar dengan mobil, tapi tetap saja menangis saat permintaannya untuk dibelikan mainan mahal tak dipenuhi sang orang tua. Angel menculik anak-anak itu, agar mereka mendengar deritanya yang dipaksa bapak-ibunya untuk hidup di jalanan. Alih-alih bersekolah, Angel didesak orang tuanya tidur di perempatan-perempatan jalan kota untuk menghidupi keluarga. Itu sebabnya Angel lebih suka hidup di penjara ketimbang di luar ruang sempit Lembaga Pemasyarakatan.
Cerita Angel ini, kontras yang dapat dijumpai kita semua di kota-kota besar. Tapi ide menculik itu, jelas-jelas sesuatu yang tak biasa dilakukan seorang bocah. Dan bagaimana bisa memahami bocah jalanan yang tidak sekolah bisa mengganti namanya jadi Angel, sang malaikat? Sayang penulis tergoda untuk kembali pada klise [baca : berkhutbah] di ujung cerita “Anak-anak adalah malaikat yang harus dijaga, sekalipun mereka lahir dan besar di jalanan. Mereka juga anak bangsa yang punya hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara”.
Dalam “Cinta Bukan Kata” pembaca diingatkan akan ketulusan cinta. Adalah seorang perawat bernama Larasati yang tekun menabur cinta. Seorang nenek yang kehilangan harapan karena sakit yang dideritanya dan “ditinggalkan” [baca : kurang disentuh dengan hati] oleh keluarganya, dirawatnya dengan sepenuh hati. Tapi, sebelum benih-benih cinta yang ditaburkan Larasati memupuk semangat hidup nenek itu, ajal lebih dulu menjemput orang tua itu.
Eksperimen lain bisa dijumpai dalam “Tikus”, “Luka” atau “Tottemo Daisuki” . Penulis berupaya sedapat mungkin untuk keluar dari hal-hal yang umum, meski kadang absurd. Sulit dipahami jika sekumpulan jurnalis yang berpetualang ke Puncak Jaya, kembali ke kantornya untuk kemudian membuat rubrik baru berjudul “Siapa Luka?” di majalah tempat mereka. Luka adalah seorang tokoh misterius yang ditemukan kumpulan jurnalis itu di kampung bawah Puncak Jaya dan membuat mereka penasaran [baca “Luka”].
Meski demikian, sebagai langkah awal untuk bergelut dengan sastra dan kepenulisan, apa yang dilakukan Tenni Purwanti layak dihargai. Bahkan jika pun harus terantuk batu, cita-cita tak boleh surut. Selamat mencoba.
No comments:
Post a Comment