Saturday, January 29, 2011

Kala Renta Menyapa Usia

 Bisa juga dibaca di sini :


Kala Renta Menyapa Usia


Senja pertanda malam akan datang. Begitupun usiaku, menandakan kematian akan segera menjemput. Tapi usia hanyalah penanda waktu, sudah berapa lama hadirku. Dalam tubuh yang mulai dimakan usia, jiwaku masih saja muda. Kalau kau tak percaya, lihat saja, aku masih bisa mencipta lagu di usia delapan puluh. Lagu-lagu yang ku ciptakan mungkin tak disukai mereka yang merasa masih muda. Kami berbeda zaman, tentu saja berbeda selera. Bahkan ketika berada dalam satu zaman dengan orang-orang seusiaku pun, selera musik kami sudah tak sama. Aku mencipta musik bukan untuk tujuan komersil, tapi sekadar mengusir sepi. Di usiaku ini, aku sudah mulai kehilangan orang-orang yang dulu pernah mendampingi.

Istriku meninggal beberapa bulan lalu. Anak-anakku, yang telah memberiku belasan cucu, sudah hidup dengan keluarganya masing-masing.Mereka mengunjungiku hanya jika ada waktu yang cukup, saat liburan sekolah anak-anak, atau saat angka di kalender berwarna merah.Mengunjungiku sudah seperti bacaan rutin anak-anak Sekolah Dasar dengan judul “Mengunjungi Kakek di Saat Liburan”. Aku tak menyalahkan mereka. Mungkin aku saja yang terlalu merasa lara. Toh aku sendiri yang memilih hidup jauh dari mereka. Aku yang memilih tinggal di sebuah villa di kawasan puncak, jauh dari keramaian, karena merasa sudah tak mungkin berbaur dengan orang-orang muda.

Setiap teringat masa mudaku dulu, aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Orang tuaku tak pernah mengizinkan aku menjadi seniman. Aku jadi sembunyi-sembunyi bermain angklung sepulang sekolah. Orang tuaku tak pernah tahu kalau uang untuk les bahasa Inggris aku pakai untuk aktif di sanggar angklung. Mereka hanya tahu sepulang sekolah aku les bahasa Inggris, padahal sesungguhnya aku ‘mangkal’ di sanggar Angklung. Sampai pada akhirnya di usia 20-an, orang tuaku baru sadar bahwa aku adalah seniman angklung ketika aku memenangkan juara pertama lomba bermain Angklung se-Jawa Barat. Sejak itu, orang tua mengizinkan aku terus bermain Angklung asal tidak mengganggu pendidikan.

Aku bisa lulus Perguruan Tinggi bahkan hingga meraih Gelar Sarjana Strata Dua di bidang Seni Musik, semuanya karena Angklung. Dengan memenangkan berbagai lomba baik tingkat Nasional maupun Internasional, aku bisa mengecap Pendidikan Tinggi tanpa biaya sendiri. Beasiswa adalah jawabannya. Angklung juga yang mempertemukan aku dengan belahan jiwaku. Aku bertemu dengannya di Festival Musik se-Asia Tenggara saat usia 32, sedang ia berusia 25. Gadis cantik, ramah, penyanyi keroncong yang telah keliling dunia membawa nama Indonesia. Kurang dari satu tahun mendekatinya, aku tak menyangka ia menerima lamaranku. Kami menikah di usia-nya yang ke-26. Puluhan tahun menikah dengannya, kami dikaruniai dua orang putera dan tiga orang puteri yang semuanya telah menikah dan memberi kami belasan cucu.

Di usiaku yang renta ini, aku ingat begitu banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupku. Baik pergi ke luar kota, ke luar negeri, hingga meninggalkan dunia. Teman-teman sekolah dulu, hanya bisa dihitung dengan jari, yang masih berkomunikasi denganku. Lainnya entah di mana, masih hidup ataukah telah tiada? Setiap kali berpindah tingkat pendidikan,dari SD, SLTP, SMU, Kuliah, bekerja, aku akan bertemu orang-orang baru dan nyaris melupakan orang-orang lama. Dulu aku sempat sulit beradaptasi. Apakah hidup memang harus seperti ini? Kita semua saling mengenal, saling mengerti, hanya karena berada di satu sekolah, satu kampus, satu kantor, atau satu kompleks perumahan? Setelah tak lagi dekat dalam jarak, hubungan kami pun ikut berjarak. Apakah hidup harus selalu seperti itu?

Aku ingat, sepanjang hidupku aku hanya punya satu orang sahabat sejati. Dia yang selalu aku cari setiap kali mengalami nyeri di hati. Puluhan tahun kami bersahabat, hingga dua tahun lalu dia pergi untuk selama-lamanya. Orang tuaku bahkan, satu persatu pergi sepuluh tahun lalu, ayah lebih dulu, lalu menyusul ibu. Ibu yang tak kuat ditinggal ayah, akhirnya juga dipanggil Tuhan. Istriku pun, dipanggil Tuhan beberapa bulan lalu.
Aku hanya tinggal menunggu gilaranku. Sambil menunggu, aku akan terus mencipta lagu. Tak perlu dijual kepada industri musik yang tentu akan menolakku dengan berbagai alasan. Karena aku renta, karena musikku kuno dan terlalu sederhana, atau karena alat musikku hanya angklung. Aku ingin mencipta lagu untuk memberi makan jiwaku. Aku ingin terus bermain angklung untuk menghibur sepiku. Masa mudaku sudah terlalu lengkap dengan berbagai penghargaan. Aku tak boleh rakus penghargaan dengan masih ingin dihargai kala renta.  Masa mudaku juga dikelilingi oleh orang-orang yang ku cinta, nikmati saja usia renta dengan kesendirian apa adanya.

Tak semua orang bisa menikmati masa tua sepertiku yang sangat mensyukurinya. Lapang dada, menerima takdir dengan se-ikhlasnya hati menerima, lalu siap pada akhir hidup tanpa tawar-menawar dengan Tuhan. Tak perlu mengeluh, kesendirian ini memang sudah waktunya.

Kala renta menyapa usia, jalani saja kehendak-Nya tanpa perlu banyak bertanya …

No comments: