Saturday, January 29, 2011

Tak Bisa Membeli Isi Hati

Bisa juga dibaca di sini :


Tak Bisa Membeli Isi Hati


Harga diriku pernah dibeli dengan satu kata : cinta. Kata yang belum benar-benar aku mengerti artinya. Di kemudian hari aku tahu kata yang pernah ia ungkap padaku itu bukanlah cinta, hanya dusta yang ia bungkus dalam satu kata yang begitu agung. Kini setelah lepas dari tipu dayanya, aku malah terkungkung dalam lingkaran setan : harga diriku ternyata bisa dibeli dengan satu benda, bernama uang.

Bentuknya kertas, kadang juga logam, sama sekali tak berat, mudah membawanya, tapi tak mudah mendapatkannya. Aku bahkan harus menanggalkan helai demi helai pakaian demi untuk mendapatkan beberapa lembar yang nominalnya pun tak seberapa. Hanya lembaran kertas, tapi aku bisa makan, bisa beli pakaian baru, bisa bayar kontrakan, bisa jalan-jalan jika telah memilikinya. Bahkan aku simak dari berbagai media massa, hukum pun bisa dibeli dengan uang. Ah, otakku tak akan sampai untuk bicara hukum dan politik seperti para presenter berita yang cerdas mengkritisi para mafia hukum itu. Hanya saja aku jadi tahu, segala sesuatu ternyata bisa dibeli dengan uang, baik yang normal maupun yang absurd.

Dalam satu malam, aku bisa mendapatkan jutaan rupiah hanya dengan menemani jiwa-jiwa sepi yang tak ingin kehilangan malam. Kadang harus sakit di daerah sana karena hasrat mereka yang diatas rata-rata, kadang malah santai tak harus banyak bergerak karena ternyata mereka hanya butuh teman bicara. Sebanyak apapun rupiah yang ku punya, ternyata aku hanya menemukan hampa. Banyak benda mudah ku raih dalam genggaman setelah rupiah bertambah dan terus bertambah, tapi kusadari hati tak terisi. Kosong, melantunkan sepi. Ternyata uang tak bisa membeli isi hati.

Kadang aku jadi bertanya-tanya, apakah para koruptor di sana juga merasakan hal yang sama? Apakah mereka merasakan hal yang kurasakan? Ketika uang berlimpah dan semua bisa dibeli, apakah mereka juga merasakan titik nol yang ku rasakan? Kalau mereka tak merasakan, berarti mereka mungkin sudah tak punya hati. Jadi hati itu kosong atau tidak, mereka tak akan pernah sadari. Sedangkan aku, sungguh miris mendapati ada satu hal yang tak bisa ku beli dengan uang, yaitu isi hati. Dengan apa harus ku beli? Apakah dengan cinta?

Aku bahkan tak pernah benar-benar tahu apa itu cinta. Sejak kecil aku tak pernah punya orang tua. Aku lahir di jalan, besar di jalan, bahkan hilang perawan pun di jalanan. Ditipu seorang preman yang mengaku cinta padaku dan ternyata tidak. Cinta dari sahabat, aku tak pernah punya sahabat. Di jalanan, sejak kecil aku selalu rebutan ‘mangsa’ untuk mengamen atau bahkan merampok dompet orang dengan anak jalanan lain.


Sekarang aku sudah tak lagi di jalanan. Aku bisa tersenyum penuh kemenangan karena aku bisa menatap jalanan Jakarta dengan angkuhnya dari lantai tertinggi sebuah apartemen mewah. Aku sang penjaja kepuasan jalanan, naik jabatan jadi selingkuhan. Tapi makin banyak rupiah yang ku punya setiap detik, makin nyinyir hatiku menjerit.
***

BeritaOnline-Jakarta, Seorang perempuan berusia 19 tahun ditemukan tewas di sebuah apartemen di kawasan Sudirman. Dugaan sementara dari pihak kepolisian, perempuan itu tewas karena bunuh diri dengan meminum obat tidur dosis tinggi sebanyak dua puluh butir. Hal paling miris dari tewasnya perempuan belia ini adalah, ia ditemukan dalam posisi tidur di atas kasur tanpa sehelai baju atau kain, tubuhnya hanya ditutupi ratusan lembar uang kertas bernominal seratus ribu rupiah.

Untuk Putri Mawar di Usia 35

Bisa juga dibaca di sini :


Untuk Putri Mawar di Usia 35


Putri Mawar, surat ini aku tulis untukmu hari ini, saat usiaku 25 tahun. Saat membaca ini, kau pasti telah berusia 35 tahun. Usia yang cukup matang, seharusnya juga mapan.

Semoga saat membaca surat ini, kau sedang berada di apartemen di pusat kota Jakarta. Apartemen di lantai paling tinggi dimana kau bisa memandangi seluruh city lights Jakarta setiap malam. Satu-satunya pemandangan yang sangat kau kagumi. Apakah mobil yang terparkir di basement apartemenmu adalah mobil Jaguar berwarna merah? Sebutkan, sebutkan isi apartemenmu. Apakah semua interiornya sudah kau tata sedemikian rupa hingga keseluruhannya hanya berhiaskan mawar?

Aku harap kau sudah tak lagi menggunakan laptop ‘peninggalan’ mantan pacarmu itu. Laptop yang sudah rusak di sana-sini tapi masih berguna membantumu menulis. Menulis berbagai tema di komunitas menulis online, hingga menghasilkan beberapa cerpen yang dimuat di berbagai media cetak ibukota, antologi-antologi cerpen bersama penulis ternama, dan tentu saja, buku-buku best seller karya tunggalmu. Laptop itu memang sangat berjasa, tapi di usia 35, tentu laptop itu sudah layak di ‘museum’ kan. Simpan rapi dalam kotak, pandangi hanya untuk mengenang jasanya. Berkaryalah dengan laptop canggih yang multifungsi, yang bisa kau bawa kemana saja, agar kau bisa menulis di mana saja. Sekaligus pula untuk menambah gaya hidupmu. Pilihlah laptop dengan warna yang kau suka. Oh, mungkin juga di usia 35 nanti sudah ada laptop yang bercorak mawar?

Aku juga berharap kau sudah membuang ‘handphone sejuta umat’ yang telah belasan tahun kau gunakan. Tentu aku tak perlu mengajarimu, ponsel mana nanti yang harus kau gunakan untuk menunjang kariermu sebagai Presenter Berita Televisi sekaligus penulis buku-buku best seller. Kau pasti tahu betul ponsel apa yang sanggup mendampingi mobilitasmu yang tinggi. Ketika semua impian telah kau raih, bagaimana perasaanmu Puteri Mawar? Apakah kau merasa baik-baik saja? Bagaimana rasanya menggenggam semuanya setelah melewati kegagalan ratusan kali, setelah terjatuh, bangkit, terjatuh, lalu harus bangkit lagi? Apakah saat ini kau benar-benar bahagia?

Mungkin di usia 35 nanti, kau akan dicecar pertanyaan yang sejak saat ini pun sudah menggangguku. Kapan kau akan menikah? Semoga di usia 35 nanti kau telah menikah, atau minimal sedang merencanakan pernikahan. Tapi aku berharap, di usia 35 ini, kau telah menikah dengan laki-laki baik, yang menyayangi lahir dan batinmu, dan memberimu satu anak yang lucu. Aku harap perempuan, karena aku ingin menjadikannya perempuan sempurna kelak. Dengan siapapun kau menikah nanti, semoga dia adalah laki-laki terbaik yang memang dikirimkan Tuhan untuk menemani sisa hidupmu. 

Putri Mawar, tapi jika saat membaca surat ini kau masih belum menggapai apa-apa yang telah ku sebutkan tadi, bersabarlah. Beryukurlah pada Tuhan bahwa kau masih diberi kesempatan untuk bernapas hingga selama ini di dunia. Teruslah menulis, teruslah berusaha, jangan menyerah! Kalau Tuhan memberi kesempatan kau hidup di dunia hingga usia 85 tahun, berarti masih ada 50 tahun lagi untuk berusaha dan berdoa. Maukah kau tetap menjaga semangatmu hingga 50 tahun lagi? Maukah kau terus berusaha hingga raga tak lagi bernyawa? Harus mau! Putri Mawar, kau perempuan tegar dan kuat. Aku tahu itu! Jangan pernah berhenti!

Di usiaku yang 25 tahun ini, aku juga kadang merasa galau. Aku juga sering merasa kesepian. Aku juga butuh sosok satu orang, ya, satu orang saja untuk menemaniku menjalani hidup. Seseorang yang menerima keseluruhanku, dari sisi baik maupun buruk. Seseorang yang tak mempermasalahkan masa laluku dan mau menjalani masa sekarang serta merencanakan masa depan bersamaku. Seseorang yang mau sama-sama berusaha, sama-sama berjuang. Di usiaku sekarang ini, aku masih sulit menemukannya. Jika di usiamu nanti kau tak kunjung menemukannya, bersabarlah! Kumohon jangan berhenti meminta pada Tuhan, sambil terus perbaiki kualitas diri. Aku yakin kau masih memegang prinsip yang sama denganku saat ini, bahwa belahan jiwa kita tidak akan jauh berbeda dengan diri kita. Maka jika kau tak henti memperbaiki diri, percayalah kau akan menemukan lelaki yang sesuai dengan kualitasmu yang tinggi. Bahkan Tuhan pun berjanji dalam kitab suci yang kau yakini.

Putri Mawar, menjadi apapun kamu di usia 35 nanti, sekaya atau semiskin apapun kamu di usia 35 nanti, sudah berkeluarga ataupun belum, aku berharap kau masih dekat pada Tuhan. Karena Tuhan satu-satunya penolongmu, satu-satunya tempatmu meminta perlindungan, satu-satunya yang bisa memberimu kebahagiaan yang paling hakiki. Jangan pernah melepaskan Tuhan dari hatimu, itu saja yang ku pinta. Maka, aku akan tenang menjalani hari-hariku menuju usiamu nanti.

Sampai bertemu di usia 35 …

Desah Jadi Rupiah

 Bisa juga dibaca di sini :
http://jejakubikel.com/2011/01/29/desah-jadi-rupiah/


Desah Jadi Rupiah


Jika mata adalah jendela jiwa
Jiwa seperti apakah yang dimiliki mata-mata liar pemuja raga
Yang tingkah lakunya hanya tentang persatuan dua alat
Habiskan malam dalam lingkaran syahwat

Ketika puncak kenikmatan bisa dibeli di pinggir jalan
Hanya selangkangan yang memberi kekuatan
Perempuan-perempuan hidup pasrah tanpa sanggah
Ketika desah selalu bisa jadi rupiah

Dongeng sebelum tidur adalah masa lalu
Pangeran berkuda putih tak akan pernah menjemput
Hidup perempuan itu hanyalah benang kusut
Semrawut tanpa sadar bahagia itu semu

Kala Renta Menyapa Usia

 Bisa juga dibaca di sini :


Kala Renta Menyapa Usia


Senja pertanda malam akan datang. Begitupun usiaku, menandakan kematian akan segera menjemput. Tapi usia hanyalah penanda waktu, sudah berapa lama hadirku. Dalam tubuh yang mulai dimakan usia, jiwaku masih saja muda. Kalau kau tak percaya, lihat saja, aku masih bisa mencipta lagu di usia delapan puluh. Lagu-lagu yang ku ciptakan mungkin tak disukai mereka yang merasa masih muda. Kami berbeda zaman, tentu saja berbeda selera. Bahkan ketika berada dalam satu zaman dengan orang-orang seusiaku pun, selera musik kami sudah tak sama. Aku mencipta musik bukan untuk tujuan komersil, tapi sekadar mengusir sepi. Di usiaku ini, aku sudah mulai kehilangan orang-orang yang dulu pernah mendampingi.

Istriku meninggal beberapa bulan lalu. Anak-anakku, yang telah memberiku belasan cucu, sudah hidup dengan keluarganya masing-masing.Mereka mengunjungiku hanya jika ada waktu yang cukup, saat liburan sekolah anak-anak, atau saat angka di kalender berwarna merah.Mengunjungiku sudah seperti bacaan rutin anak-anak Sekolah Dasar dengan judul “Mengunjungi Kakek di Saat Liburan”. Aku tak menyalahkan mereka. Mungkin aku saja yang terlalu merasa lara. Toh aku sendiri yang memilih hidup jauh dari mereka. Aku yang memilih tinggal di sebuah villa di kawasan puncak, jauh dari keramaian, karena merasa sudah tak mungkin berbaur dengan orang-orang muda.

Setiap teringat masa mudaku dulu, aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Orang tuaku tak pernah mengizinkan aku menjadi seniman. Aku jadi sembunyi-sembunyi bermain angklung sepulang sekolah. Orang tuaku tak pernah tahu kalau uang untuk les bahasa Inggris aku pakai untuk aktif di sanggar angklung. Mereka hanya tahu sepulang sekolah aku les bahasa Inggris, padahal sesungguhnya aku ‘mangkal’ di sanggar Angklung. Sampai pada akhirnya di usia 20-an, orang tuaku baru sadar bahwa aku adalah seniman angklung ketika aku memenangkan juara pertama lomba bermain Angklung se-Jawa Barat. Sejak itu, orang tua mengizinkan aku terus bermain Angklung asal tidak mengganggu pendidikan.

Aku bisa lulus Perguruan Tinggi bahkan hingga meraih Gelar Sarjana Strata Dua di bidang Seni Musik, semuanya karena Angklung. Dengan memenangkan berbagai lomba baik tingkat Nasional maupun Internasional, aku bisa mengecap Pendidikan Tinggi tanpa biaya sendiri. Beasiswa adalah jawabannya. Angklung juga yang mempertemukan aku dengan belahan jiwaku. Aku bertemu dengannya di Festival Musik se-Asia Tenggara saat usia 32, sedang ia berusia 25. Gadis cantik, ramah, penyanyi keroncong yang telah keliling dunia membawa nama Indonesia. Kurang dari satu tahun mendekatinya, aku tak menyangka ia menerima lamaranku. Kami menikah di usia-nya yang ke-26. Puluhan tahun menikah dengannya, kami dikaruniai dua orang putera dan tiga orang puteri yang semuanya telah menikah dan memberi kami belasan cucu.

Di usiaku yang renta ini, aku ingat begitu banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupku. Baik pergi ke luar kota, ke luar negeri, hingga meninggalkan dunia. Teman-teman sekolah dulu, hanya bisa dihitung dengan jari, yang masih berkomunikasi denganku. Lainnya entah di mana, masih hidup ataukah telah tiada? Setiap kali berpindah tingkat pendidikan,dari SD, SLTP, SMU, Kuliah, bekerja, aku akan bertemu orang-orang baru dan nyaris melupakan orang-orang lama. Dulu aku sempat sulit beradaptasi. Apakah hidup memang harus seperti ini? Kita semua saling mengenal, saling mengerti, hanya karena berada di satu sekolah, satu kampus, satu kantor, atau satu kompleks perumahan? Setelah tak lagi dekat dalam jarak, hubungan kami pun ikut berjarak. Apakah hidup harus selalu seperti itu?

Aku ingat, sepanjang hidupku aku hanya punya satu orang sahabat sejati. Dia yang selalu aku cari setiap kali mengalami nyeri di hati. Puluhan tahun kami bersahabat, hingga dua tahun lalu dia pergi untuk selama-lamanya. Orang tuaku bahkan, satu persatu pergi sepuluh tahun lalu, ayah lebih dulu, lalu menyusul ibu. Ibu yang tak kuat ditinggal ayah, akhirnya juga dipanggil Tuhan. Istriku pun, dipanggil Tuhan beberapa bulan lalu.
Aku hanya tinggal menunggu gilaranku. Sambil menunggu, aku akan terus mencipta lagu. Tak perlu dijual kepada industri musik yang tentu akan menolakku dengan berbagai alasan. Karena aku renta, karena musikku kuno dan terlalu sederhana, atau karena alat musikku hanya angklung. Aku ingin mencipta lagu untuk memberi makan jiwaku. Aku ingin terus bermain angklung untuk menghibur sepiku. Masa mudaku sudah terlalu lengkap dengan berbagai penghargaan. Aku tak boleh rakus penghargaan dengan masih ingin dihargai kala renta.  Masa mudaku juga dikelilingi oleh orang-orang yang ku cinta, nikmati saja usia renta dengan kesendirian apa adanya.

Tak semua orang bisa menikmati masa tua sepertiku yang sangat mensyukurinya. Lapang dada, menerima takdir dengan se-ikhlasnya hati menerima, lalu siap pada akhir hidup tanpa tawar-menawar dengan Tuhan. Tak perlu mengeluh, kesendirian ini memang sudah waktunya.

Kala renta menyapa usia, jalani saja kehendak-Nya tanpa perlu banyak bertanya …

Dasar, Peramal Gadungan!

 Bisa juga dibaca di sini :
http://jejakubikel.com/2011/01/29/dasar-peramal-gadungan/


Dasar, Peramal Gadungan!


Dia minta aku terus menatap matanya, untuk mendalami karakterku. Dia bilang aku pendiam, tertutup, dan sulit bersosialisasi dengan banyak orang.

Aku terus menyimak ramalannya. Sekadar penasaran saja. Terakhir, aku menanyakan kapan aku menikah. Dia bilang aku akan menikah dua tahun lagi.

Setelah ritual di depan bola kristal itu selesai dan aku bisa meninggalkan tenda peramal yang sok menyeramkan itu, aku langsung tertawa-tawa bersama suamiku. Aku sudah menikah, sudah punya dua anak, dan dia bilang aku baru akan menikah dua tahun lagi?

Sepanjang perjalanan pulang aku terus menertawakan peramal itu. Jelas-jelas gadungan, karena nyatanya aku sangat terbuka, punya banyak  teman, dan tentu saja, bawel tak terkira!

Satu lagi, namaku Dira, bukan Nina!

Thursday, January 27, 2011

Tik Tok Tik Tok

 Bisa juga dibaca di sini :

Tik Tok Tik Tok


Seorang perempuan di sudut kafe Bunga :

Tik tok. Tik Tok. Jarum jam tangan terus mengejek dengan suaranya yang jelas terdengar telinga. Kau tak kunjung datang. Sudah dua cangkir cappuccino tak bersisa. Bagiku ini hal langka. Seorang laki-laki yang selalu menghargai waktu, bisa terlambat datang hingga lebih dari dua jam.

Tik tok. Tik tok. Setiap kali ada langkah kaki mendekat, aku langsung melayangkan pandang ke pintu, lalu mataku berkeliling ke sudut kafe. Tak juga muncul sosokmu. Berulang kali aku hubungi ponselmu tapi nadanya selalu sibuk. Dengan siapa kau sedang berbincang? Terlalu lama untuk ukuran perbincangan telepon. Alternatif lain : sms. Tapi tak juga mendapat respon.

Tik Tok. Tik Tok. Lagi-lagi jarum jam tanganku mengejek. Lagi-lagi derap langkah kaki menipu. Kamu tidak juga muncul. Aku beku.


Seorang lelaki di sudut kafe Matahari :

Aku sudah memberi tahu via pesan pendek bahwa aku menunggunya di kafe ini. Tapi ia tak kunjung datang. Berulang kali aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya selalu sibuk. Aku tahu ia sosok wanita karier yang tak pernah lepas dari ponsel maha canggihnya. Tapi menerima telepon selama itu, apa saja yang dibicarakannya dengan klien?

Dua jam aku menunggu. Ia tak juga muncul. Setiap kali ada derap langkah dari sepatu high heels, aku langsung melayangkan pandang pada sumber suara. Aku tahu ia sangat suka mengenakan sepatu berhak sangat tinggi. Tapi malam ini, sepatu-nya tak juga eksis di kafe ini. Kemana pemilik sepatu tinggi itu?


Apartemen sang lelaki :

Baiklah aku menyerah. Aku memilih pulang sebelum diusir. Aku memilih menunggunya di sini. Biasanya kalau kangen, ia akan menemuiku di apartemenku. Dia pasti datang. Aku yakin.

Apartemen sang perempuan :

Aku malu sampai harus diusir pegawai kafe. Memang bukan diusir benar-benar diusir. Tapi dengan mengatakan kafe mau tutup, sesopan apapun, tetap saja artinya bahwa aku harus segera meninggalkan kafe itu. Dasar laki-laki tak tahu diri. Kemana saja sampai lupa pada janji?


Esok harinya, di kantor, keduanya bertemu :

“Aku baru tahu kalau seorang lelaki yang pantang telat setiap janjian, bisa tidak datang sama sekali,” sang perempuan menyindir.

“Aku juga baru tahu, kalau ada wanita karier yang menelepon sampai berjam-jam lamanya. Setiap kali ditelepon nada teleponnya sibuk. Apa saja yang dibicarakan dengan klien?” sang lelaki membalas.

“Aku tidak menelepon atau ditelepon siapa-siapa. Justru ponselmu yang sibuk terus,” sang wanita tak mau kalah.

“Ponselku? Ponselmu yang sibuk terus! Aku sudah berusaha menelepon berkali-kali nadanya selalu sibuk,” sang lelaki menyanggah. “Aku menunggumu di kafe Matahari sampai kafe itu mau tutup. Akhirnya aku pulang saja,”

“Aku menunggumu di kafe Bunga sampai diusir sama pelayannya. Tak ada yang lebih memalukan dari itu sebelumnya,” sang wanita ikut mengeluh.

“Apa?” keduanya terkejut.

Mereka baru sadar kalau kemarin malam mereka menunggu di kafe yang tidak sama. Setelah merunut ulang kronologis cerita masing-masing, mereka berdua baru tahu ini semua terjadi hanya karena sms dari sang lelaki tidak sampai ke ponsel sang perempuan.

Tidak jadi di Kafe Bunga, aku tunggu di Kafe Matahari.

Pesan pendek yang tak pernah sampai itu ditunjukkan kepada sang perempuan. Sang perempuan mengecek kembali ponselnya dan memang sms itu tak pernah sampai. Kalau pada akhirnya ponsel keduanya sibuk terus, itu karena keduanya selalu saling menelepon di waktu yang sama.

Wednesday, January 26, 2011

Percikan Cinta

Bisa juga dibaca di sini : 

Percikan Cinta

            Aku hitung sudah seribu delapan ratus dua puluh lima hari aku mengiringi langkahmu. Seperti bayangan, aku selalu ada, dan ingin selalu ada, menjadi bagianmu seterusnya. Banyak orang memberi rumus-rumus cinta. Kalau ingin berumur panjang, cinta harus dipupuk dengan sabar, dilengkapi setia, dibumbui rindu, dimaknai dengan kasih sayang.

            Ingin aku sampaikan pada dunia, bahwa kita tak pernah butuh buku panduan mempertahankan cinta. Kita, hanya butuh stok kembang api di hati. Nyalakan saja sumbunya setiap kali sunyi menggerayangi. Percikan-percikan cinta itu akan menerangi jalan yang kita lalui. Kita akan tertawa bahagia seperti kanak-kanak lagi. Percikan saja cukup, tak perlu kobaran api cinta yang mubazir.

            Sesederhana itu, untuk membuatmu tetap di sini.     

Hanya Badut

Bisa juga dibaca di sini :

Hanya Badut

Aku cinta anak-anak, maka aku menjadi badut. Aku ingin anak-anak di sekelilingku bahagia. Aku bisa melupakan masa kecilku yang tak bahagia karena tak mengenyam pendidikan. Tapi, akhirnya ada satu hal yang membuatku menyesal menjadi badut.

Hari ini, kau dan dia meminta berfoto denganku. Aku tahu betul kalian berpacaran karena saling menggenggam tangan, saling bercanda mesra di hadapanku.

Andai aku bukan badut, aku pasti sudah melamarmu hingga kau tak sempat berpacaran dengan lelaki itu. Tapi aku hanya badut, yang bahkan tak pernah berani berbincang denganmu, Manajerku, di luar urusan pekerjaan.

Cintaku padamu tak terbalas, setidaknya cintaku pada anak-anak terbalas. Aku lanjutkan atraksiku hingga membuat mereka tertawa, meski hatiku menangis terluka.

Aku dan Cintaku Pada Hujan

Bisa juga dibaca di sini :

Aku dan Cintaku Pada Hujan

Berdiri di sudut jendela adalah rutinitas yang tak pernah membosankan bagiku. Aku sangat menikmatinya, terutama ketika langit menumpahkan tangis. Entah sebatas rintik gerimis atau derasnya, guyuran air dari langit yang dinamakan manusia sebagai hujan itu sungguh ajaib. Kadang aku ikut menangis bersama langit, tapi kadang justru tersenyum hingga tertawa.

Aku tersenyum mengingat ibuku. Sejak kecil aku tak boleh bermain hujan karena takut tubuhku jatuh sakit. Hujan menjadi demikian menakutkan bagi ibuku hingga saat gerimis pun aku harus segera berlari untuk berteduh. Ibu tak pernah lupa memasukkan payung dan jas hujan ke dalam tasku. Setiap berangkat dan pulang sekolah aku harus selalu mengenakan jaket. Tapi ibu tak pernah tahu, aku justru paling suka bermain dalam hujan. Setiap kali hujan datang, aku akan bermain-main mengenakan jas hujan yang ibu masukkan ke dalam tasku. Tubuhku terlindungi jas hujan, dan aku sengaja hujan-hujanan. Sungguh mengasikkan. Ibu adalah wanita karier yang selalu berada di rumah ketika aku sudah terlelap. Jadi ibu tak pernah tahu aku sering bermain dengan hujan, bukan menghindarinya.

Ibu dipanggil Tuhan saat usiaku tujuh belas. Pemakaman ibu tepat di hari ulang tahunku, dan hujan seakan ingin menemaniku yang sedang berduka. Hujan teramat deras datang membasahi para pelayat yang mengantarkan ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua orang berlari untuk berteduh, sedangkan para penggali kubur berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya menguburkan jasad ibu. Aku, berdiri terpaku menatap ibu. Air mataku beradu dengan derai hujan. Tak ada yang tahu aku menangis karena aku tak terisak, tak tampak gerak-gerik yang menunjukkan aku sedang menangis. Hujan menyembunyikan tangisku karena derasnya pun lebih deras dari air mataku. Aku terus terpaku menatap jasad ibu yang perlahan-lahan hilang tertutup tanah. Tangisku nyata tapi tak tersapa mata mereka.

Sejak kematian ibu, aku tak pernah lagi membawa jaket, jas hujan, atau payung di dalam tasku. Membawanya berarti mengingat ibu. Meski tujuan ibu baik, dan meski membawa benda-benda itu berarti menghargai ibu, aku lebih memilih untuk tidak pernah membawanya lagi. Aku tersenyum mengingat betapa perhatiannya ibu kepadaku. Aku terharu pada perhatiannya, tapi bagaimanapun aku sangat suka hujan, aku tak mau benda-benda itu menghalangi tubuhku yang ingin selalu dekat dengan hujan. Setiap kali hujan datang, aku akan sengaja bermain dengan rintik-rintiknya, gerimis ataupun derasnya. Aku tertawa melihat orang-orang yang panik setiap kali hujan datang.  Mereka berlarian agar tubuh tak basah dan agar sakit tak menyapa. Padahal aku, bertahun-tahun aku akrab dengan hujan, tak pernah tubuhku demam atau sakit karena kehujanan. Ketahanan tubuh yang sangat ku syukuri hingga sekarang.

Aku masih berdiri di sudut jendela, menikmati langit yang menumpahkan tangisnya. Sejak usiaku bertambah, aku mulai jarang bermain dengan hujan. Apalagi sejak lulus kuliah dan berstatus karyawan dengan rutinitas hidup yang mengekang. Aku jarang menikmati hujan. Aku terpaksa menghindari hujan agar pakaian kantorku tak basah. Aku terpaksa menghindari hujan agar esok tak mendadak demam. Bertambahnya usia membuatku kini sering diserang demam jika tubuhku disentuh hujan. Akhirnya disinilah aku setiap kali hujan. Aku hanya bisa berdiri di sudut jendela, baik sudut jendela kantor ataupun sudut jendela apartemen. Hanya memandanginya, hanya bisa mencintai hujan tanpa bisa menyentuhnya lagi.

Lantas aku teringat kisah cintaku. Aku pun kini hanya bisa mencintai laki-laki itu tanpa bisa menyentuhnya lagi. Banyak hal yang menghalangi kebersamaan kami. Seperti kisah cintaku dan hujan, kisah cintaku dengan laki-laki itu juga harus aku hindari agar hatiku tak jatuh sakit. Aku harus menjaga harga diriku seperti menjaga pakaian kantor yang tak boleh basah oleh hujan. Aku mencintai lelaki yang telah memiliki kekasih. Bodohnya aku tak pernah diberi tahu oleh laki-laki itu dan aku percaya saja bahwa ia hanya mencintaiku. Tuhan begitu baik hingga akhirnya satu demi satu fakta datang menghampiriku. Aku bukan perempuan satu-satunya. Aku akhirnya pergi dari hidupnya tanpa pamit, tanpa minta penjelasan. Aku hapus semua akun jejaring sosialnya dari akunku, aku hapus pula nomor ponselnya dari ponselku, berharap bisa menghapus dirinya dari hidupku.

Nyatanya hingga kini aku masih saja mengingatnya. Setiap kali hujan datang, aku kembali mengingatnya. Kisah cinta yang hampir sejalan dengan kisah cintaku dan hujan. Aku hanya bisa memandangi foto-foto lelaki itu dari laptop tanpa bisa menyentuhnya lagi. Seperti rutinitasku berdiri di sudut jendela memandangi hujan yang begitu dramatis. Hanya bisa memandangi, meski sangat mencintai.

Mendadak aku ingin intim lagi dengan hujan. Memandangi beragam foto laki-laki itu hari ini membuatku ingin menangis histeris, dan hujan tahu aku sedang membutuhkannya. Hujan datang menghampiriku, mulai dari gerimis hingga derasnya. Hujan sudah menyanyikan senduku dan seakan memintaku mendekapnya. Aku tak tahan hanya memandanginya dari sudut jendela selama berjam-jam. Aku lalu keluar dari apartemen, ingin menangis dalam hujan.

Aku kembali mendekap hujan. Betapa bahagianya. Aku seperti kanak lagi, dimana hujan adalah saat yang tepat untuk bermain. Sampai pada akhirnya aku melihat sosok itu. Sosok yang berjarak hanya beberapa meter dariku. Aku tahu ia juga bertempat tinggal di sekitar apartemen ini. Tak sengaja bertemu dengannya bukanlah hal yang bisa membuatku terkejut. Tapi tak sengaja bertemu dengannya dalam hujan adalah keajaiban. Dia, yang ku tahu tak pernah suka hujan, justru sedang menikmati hujan. Dia tersenyum, menatap langit yang sama sekali tidak cerah dan tidak tersenyum kepadanya. Aku tahu betul itu dia. Sampai pada akhirnya pandangan kami bertemu saat matanya mulai turun dari langit menujuku. Menuju tubuhku yang baru berpelukan dengan hujan. Ia tersenyum, begitupun aku. Mudah-mudahan ia tak tahu aku juga sekaligus menangis. Aku menangis bahagia karena hujan membawaku untuk bertemu dengannya. Hujan membantuku melihat lagi wajah yang sangat kurindukan. Sepahit apapun ia mengkhianatiku, aku masih saja menyayanginya, masih merindukan senyumnya. Entah ini cinta jenis apa, aku hanya ingin bertemu dia. Dan hujan mengabulkannya.

Hanya beberapa detik kami saling menatap dalam hujan, tanpa saling menghampiri. Saat ia melangkah mendekati, seorang perempuan datang sambil berlari, membawakan payung untuknya, lalu mengajaknya pergi. Aku berbalik, tak sudi melihat mereka lagi.

Sepanjang jalan tanpa tahu kemana harus menuju, mataku terus menangis, hatiku menangis, tapi aku tahu orang-orang tak tahu aku sedang menangis. Hujan menderas menyembunyikan tangisku dalam senandungnya yang sendu.

***
Aku terjaga dalam ruangan serba putih. Tanganku digenggam hangat seseorang. Ayahku tersenyum menyembunyikan kepanikannya.

“Kamu lupa pesan ibu?”

“Aku ingat. Aku selalu ingat. Tapi aku sedang ingin bermain hujan, ayah. Kali ini saja,”

“Kamu mengidap penyakit bronchitis, maka ibumu dulu selalu melindungimu dari hujan,”

“Mengapa aku baru diberi tahu sekarang?”

“Karena ayah tidak tega memisahkan kamu dengan hujan. Ayah tahu kamu sangat mencintainya. Tapi satu hal yang kamu harus mengerti dalam hidup, bahwa terkadang kita harus berpisah dengan yang kita cintai. Seperti ayah yang tak ingin berpisah dengan ibu, tapi Tuhan memanggilnya lebih dulu. Apa ayah harus bunuh diri agar bisa bersatu lagi dengan ibu? Tidak kan? Kau juga tak boleh menyiksa tubuhmu hanya karena ingin selalu bersatu dengan hujan. Kau masih bisa mencintainya dengan cara lain. Memandanginya dari sudut jendela, melukis pelangi setelah hujan, atau menulis puisi tentang hujan. Masih banyak cara yang bisa kau lakukan untuk tetap bisa mencintai hujan,”

“Lalu bagaimana cara ayah untuk tetap bisa mencintai ibu?”

“Ayah akan selalu mengirimkan doa untuknya,”

Aku tersenyum pada ayah. Mulai hari ini, aku akan mencintai hujan dengan cara lain. Mungkin akan terus memandangi hujan dari sudut jendela. Sambil menangis, atau berdoa. Mendoakan ibu. Mendoakan ayah. Mendoakan diriku agar bisa berhenti merindukan laki-laki itu.

Hujan datang lagi, senandungkan lagu dalam pembaringanku. Aku memandangi hujan dari jendela rumah sakit. Aku akan tetap  mencintai hujan meski tak bisa lagi menyentuhnya, karena hujan tak akan pernah membuatku terluka seperti dia.

Setelah pulih nanti, aku ingin mengabadikan hujan dalam puisi …

Sunday, January 23, 2011

Pengagum Rahasia Terakhir

Klik pada judul di bawah untuk menuju ke link tulisan saya ini di Writingsession club :

“Hey, aku punya secret admirer lagi,”

Lagi katamu. Begitu bangganya kau menyebut kata “lagi” karena aku memang tahu betul, kau selalu punya secret admirer.

“Tapi kali ini beda. Sepertinya orangnya sedikit … psycho,”

Ah, bukankah semua secret admirer itu psycho?  Mereka mengikuti orang yang dikagumi, memberi kejutan-kejutan kecil kepada  sang pujaan hati, tapi tak pernah berani bertemu langsung. Apa namanya kalo bukan psycho, ketika waktumu hidup hanya kau habiskan untuk memikirkan satu orang, selalu berusaha  memberi kejutan rahasia, mengaguminya hingga sulit tidur sulit makan, lalu mulai menanyakan segala hal tentangnya dari sumber manapun bahkan dengan cara apapun.  Apakah itu cara mencinta yang normal? Mengapa harus membiarkan snag pujaan hati bertanya-tanya dan penasaran?

“Kemarin pagi, ada bunga mawar warna hitam di mejaku. Terus pagi ini ada secarik kertas bertuliskan puisi cinta. Tapi puisinya menyeramkan. Akhir puisinya dia bertanya, maukah kau menemani tak hanya hidupku tapi juga matiku? Maksudnya aku disuruh mati bareng dia kali ya, hahahah,”

Kamu aneh. Kamu masih menganggap itu lelucon. Bagiku tidak lucu. Itu surat yang teramat sangat serius.

“Besok dia mau ngasih kejutan apa lagi, ya. Entah sudah ke berapa kali aku lupa. Aku punya banyak pengagum rahasia, tapi tidak satu pun yang menjadi kekasihku. Seandainya mereka berani bertemu, mungkin aku akan memilih salah satunya,”

Kamu terus berceloteh tentang pengagum rahasiamu. Kau ulang semua kisah yang pernah kau ceritakan padaku sejak lima tahun lalu. Semua pengagum rahasia beserta tingkahnya yang aneh-aneh. Tapi pengagum rahasia-mu yang terakhir ini yang sungguh membuatmu penasaran.

“Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Kalau dia berani menemuiku, aku janji, kali ini aku akan menerimanya sebagai kekasihku,”

Aku sudah mencacat janji itu. Kita buktikan saja nanti, apakah kau akan memenuhi janjimu.


***

            Aku tak menyangka akan demikian penasaran pada pengagum rahasia terakhirku ini. Ia bahkan tahu nomor ponselku. Ia menawarkan diri untuk bertemu denganku. Karena rasa penasaranku memang tak tertahan, akhirnya aku menemuinya di sebuah kafe di daerah Jakarta Selatan.

            “Hey, Sandra, kok kamu disini?” tanyaku pada seorang perempuan yang telah menjadi sahabatku selama kurang lebih lima tahun. Ia mendekatiku yang sednag duduk termenung menanti sang pengagum rahasia.

            “Aku sudah bertemu pengagum rahasiamu. Ayo, naik ke mobilku,”

            “Oh ya, kok bisa? Memangnya kamu kenal dia?”

            “Sangat kenal. Ayo, langsung ke mobilku saja. Aku akan mengantarmu menemuinya,”

            “Wah, kenapa ga bilang dari kemarin-kemarin?”

            “Nanti aku jelaskan di mobil sambil jalan. Ayo!”

            Aku menurut saja. Aku sudah sangat percaya padanya. Setelah cukup jauh meninggalkan Jakarta dan tiba di puncak bukit yang sepi, ia menghentikan mobil dan mulai bercerita.

            “Akulah pengagum rahasiamu yang terakhir. Ingat janjimu?”


            Aku terkejut.

            “Tapi … tapi … bagaimana mungkin?”

            “Mengapa? Janji adalah hutang. Kau sudah mengucapnya dan aku sudah mencatatnya di hati dan pikiran. Kau tak akan jilat ludah sendiri kan?"

            “Kita tidak mungkin …,”

            “Maukah kau menemani tak hanya hidupku tapi juga matiku?”

            “TIDAK MAU!!!!”

            Aku berteriak lantang.

      Percuma. Suaraku tercekat. Tangan sahabatku langsung menggerayangi tubuhku. Dia melakukan pelecehan seksual, lalu mengikat seluruh tubuhku dengan banyak tali. Setelah itu, ia menyalakan mobil kembali, menjalankannya dan menembus jurang di hadapan kami. Sepertinya kami akan mati bersama. Aku pasrah. Aku tak mungkin menerima cintanya. Bukan karena kami telah bersahabat selama lima tahun, tapi karena kami sama-sama perempuan.

Saturday, January 22, 2011

Tersesat

Bisa juga dibaca di sini :
http://jejakubikel.com/2011/01/22/tersesat/


Tersesat 


Satu tahun lalu, kau genggam tanganku sebelum memasuki taman Maze di kawasan Taman Bunga Nusantara. Kau bilang kalau kita sama-sama tersesat, aku harus diam di tempat dan teriakkan namamu. Biar nanti kau yang mencariku. Supaya kita tak lebih tersesat karena saling mencari. Akhirnya ketika tersesat, aku melakukannya, dan kau berhasil menemukanku. Kita berpelukan di dalam taman Maze yang tingginya sebatas bahu orang dewasa. Diiringi melodi cinta yang dinyanyikan angin sore.


Jingganya senja mewarnakan rinduku. Satu tahun berlalu dan hatiku masih saja meneriakkan namamu, meski tahu kau tak akan pernah mencariku lagi. Setelah pertemuan terakhir kita, kau meninggal dunia karena kecelakaan mobil.


Aku terlanjur tersesat di Labirin kenangan. Enggan beranjak dari hatimu

Kostum Kematian

Bisa juga dibaca di sini :
http://jejakubikel.com/2011/01/22/kostum-kematian/


Kostum Kematian 


Aku terbiasa berganti-ganti kostum. Semua kostum pernah kupakai. Mulai dari kostum penegak hukum, dokter, pegawai negeri, karyawan swasta, sampai kostum wartawan pernah melekat pada tubuhku. Aku adalah pemain sandiwara multi talenta karena bisa memerankan apa saja di atas panggung. Hampir semua.


Di penghujung usia, aku mulai bosan. Aku lalu mengajukan surat pengunduran diri. Aku mau istirahat total. Mereka berusaha menahanku dan berjanji akan mencarikan karakter-karakter baru yang bisa aku perankan. Mereka akan membuatkan berbagai kostum yang lebih menarik.


Aku menunggu beberapa bulan. Mereka tak kunjung menemukan karakter dan kostum baru. Aku pun pamit dan meminta mereka membuatkan kostum terakhir. Kostum yang terbuat dari kain kafan.


Keinginan terakhirku berperan sebagai pocong dikabulkan.

Saturday, January 15, 2011

Hanya Ada Aku

Akhirnya karya saya terpilih lagi untuk menjadi Best of The Night di klub menulis online @writingsession
Kali ini untuk tema 'Doppelganger' Sila baca keterangannya disini :

Best Of The Night 12 Januari 2010


Untuk cerpen lengkapnya, bisa dibaca disini :
http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/01/hanya-ada-aku.html


Hanya Ada Aku


Aku tak pernah merasakan atmosfer persaingan sehebat ini sebelumnya di kantor. Ketika mengajukan promosi jabatan, atasanku mengatakan sudah ada yang menempati posisi yang aku inginkan. Saat hendak melakukan lobi dengan rekanan perusahaan, aku dikatakan terlambat, karena ternyata sudah ada utusan perusahaanku yang datang. Aku tidak pernah tahu siapa orang itu. Aku tak pernah tahu dimana dia berada. Mengapa semua yang seharusnya menjadi proyekku kini ada di tangannya?
Aku mencari tahu siapa orang itu. Aku datangi ruang kerjanya. Aku telusuri data-data pribadinya dari teman dekatku yang bekerja di bagian personalia. Temanku hanya mengatakan satu hal yang membuatku terkejut. 
“Dia mirip kamu, mulai dari wajah, cara berpenampilan, sampai kecerdasan, dan kinerja di perusahaan ini. Dia memang baru tiga bulan di kantor ini. Mulanya ia diterima di departemen lain, tapi melihat segala-galanya mirip kamu, akhirnya Manajer kamu meminta dia untuk menggantikanmu sementara, selama kamu cuti melahirkan.  Setelah kamu kembali ke kantor ini, dia malah diangkat ke jenjang karir yang lebih tinggi, yaitu jadi asisten Manajer kamu. Aku tidak bisa membayangkan dua orang yang benar-benar mirip akan bekerja sebagai atasan dan bawahan,”
Aku putuskan berhenti menyimak penjelasan dari temanku. Aku langsung meninggalkannya dan menemui perempuan itu di kantin kantor. Kata temanku dia sedang berada di sana untuk makan siang.
Aku mencari-cari orang yang “katanya” mirip denganku. Tentu tak akan sulit mencarinya. Dan benar saja. Perempuan itu sedang menyantap nasi goreng seafood dengan segelas jus jeruk yang diatasnya dilumuri float. Orange Float tepatnya. Makanan dan minuman favoritku setiap kali makan siang di kantin ini. 
Aku tidak menyapanya. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya. Ia makan dengan tangan kiri. Sama denganku. Dia tidak bicara selama makan, masih sama persis sepertiku. Dia menyisihkan bawang dan sayuran di sisi piring dan tidak menyantapnya. Benar-benar seperti diriku. Aku terus mengikuti aktifitasnya selama sisa kerja hari ini. 
Aku mengikutinya sepulang kerja. Jalan yang ia tempuh pun ternyata sama dengan jalan yang ku lalui untuk menuju rumahku. Memasuki gang sempit, aku langsung menyapanya.
“Hei!”
Perempuan itu menoleh.
Tuhan, aku terkejut melihat wajahnya. Aku seperti bercermin. 
“Kamu memanggil saya?”
“Iya, kamu. Siapa lagi? Hanya ada kita berdua di gang sesempit ini,”
“Ada apa ya?” 
“Kamu siapa?”
“Seharusnya aku yang bertanya, kamu siapa? Mengapa tiba-tiba memanggil saya?”
“Kamu adalah orang yang datang ke kantorku untuk melamar pekerjaan di departemen lain. Tapi akhirnya Manajerku merekrut kamu untuk menggantikan aku selama aku melahirkan. Setelah cuti melahirkanku habis, aku terkejut karena kamu bukan saja menggantikan posisiku di kantor, tapi mengambil promosi jabatanku. Sekarang kamu menjadi Asisten Manajerku. Siapa kamu? Mengapa kamu sangat mirip denganku? Ada apa di balik kedatangan kamu ke kantorku dan merenggut semuanya dariku?”
“Aku tak pernah bermaksud merenggut apapun yang kamu punya. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku justru terkejut tiba-tiba ada orang yang mirip denganku, mengikutiku sampai seperti ini, lalu mencegatku seperti ini. Apa maksud kamu melakukan semua ini?”
“Aku hanya ingin tahu siapa kamu,”
“Tentu kamu sudah tahu namaku dari bagian personalia. Besok akan ada perkenalan secara resmi dari Manajer tentang pengangkatanku sebagai Asisten-nya. Datang saja besok ke kantor, maka kau akan tahu lebih banyak tentang aku,”
Aku langsung mencekik leher perempuan di hadapanku itu. Aku tidak akan membiarkan dia hidup. Kalau bukan dia yang mati, maka aku yang akan mati. Aku percaya itu. Dia adalah orang ke-lima yang begitu mirip denganku. Dulu teman-temanku pernah mengatakan, kalau sampai aku bertemu dengan orang yang mirip denganku sampai lima kali berturut-turut, maka berarti ajalku sudah dekat. Aku tak mau mati secepat itu hanya karena menemukan perenpuan ini! Perempuan ini adalah perempuan ke-lima yang telah kutemui.

                                                 ***
Hari ini adalah pengangkatan secara resmi diriku sebagai Asisten Manajer. Mulai hari ini, selain jenjang karir menjanjikan plus gaji yang tinggi, jabatanku adalah penghubung agar aku bisa selalu dekat dengan selingkuhanku, sang Manajer. Beberapa bulan lagi aku bisa membujuknya untuk segera menikahiku.
Suamiku tak akan tahu aku selingkuh. Dia hanya tahu, selepas melahirkan aku mati karena dirampok orang dan dibunuh dengan sadis. Padahal aku masih hidup dan menggantikan posisi perempuan yang mirip denganku itu. Dia sudah mati dengan leher tercekik dan tubuh penuh luka memar karena aku menghajarnya habis-habisan. Aku menelepon suamiku setelah membunuhnya dan mengatakan bahwa akulah yang terbunuh. Aku berpura-pura menjadi perempuan itu dan mengatakan bahwa aku telah berusaha menolongnya tapi apa daya, sang perampok melarikan diri.


                                           ***
Hari ini adalah pengangkatan secara resmi diriku sebagai Asisten Manajer. Mulai hari ini, selain jenjang karir menjanjikan plus gaji yang tinggi, jabatanku adalah penghubung agar aku bisa selalu dekat dengan selingkuhanku, sang Manajer. Beberapa bulan lagi aku bisa membujuknya untuk segera menikahiku.
Suamiku tak akan tahu aku selingkuh. Dia hanya tahu, selepas melahirkan aku mati karena dirampok orang dan dibunuh dengan sadis. Padahal aku masih hidup dan menggantikan posisi perempuan yang mirip denganku itu. Dia sudah mati dengan leher tercekik dan tubuh penuh luka memar karena aku menghajarnya habis-habisan. Aku menelepon suamiku setelah membunuhnya dan mengatakan bahwa akulah yang terbunuh. Aku berpura-pura menjadi perempuan itu dan mengatakan bahwa aku telah berusaha menolongnya tapi apa daya, sang perampok melarikan diri.
 Untunglah suamiku tidak melakukan visum dan menerima kematianku begitu saja. Aku menghadiri pemakamanku, yang sesungguhnya adalah pemakaman perempuan itu. Lalu hari ini, aku melenggang bebas melanjutkan hidupku sebagai perempuan itu.


Aku tak perlu memikirkan lagi suamiku yang tak berharta dna terus memberiku anak tanpa memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya kelak. Sudah cukup sulit hidupku bersamanya. Aku sudah selamat dari maut dan kini menjalani hidup baru sebagai orang lain. Aku yakin hidupku masih akan panjang, karena aku telah bertemu dengan lima orang Doppelganger-ku dan kelima-limanya telah ku habisi nyawanya dengan cara yanghanya aku sendiri yang tahu.


           

Friday, January 14, 2011

Balonku (Hanya) Dua

Bisa juga dibaca disini :
http://jejakubikel.com/2011/01/13/balonku-hanya-dua/


Balonku (Hanya) Dua



Aku hanya punya dua, meski orang lain selalu punya lima. Ya, aku juga pernah menyanyikan lagu yang sama, tapi aku tak pernah benar-benar punya lima. Cukup dua saja, kata ibuku dua sudah cukup.


Siang dan Malam. Kaya dan Miskin. Tua dan Muda. Boros dan Hemat. Hidup dan Mati. Selalu saja satu pasang kata yang diajarkan padaku. Setelah ibu meninggal baru aku tahu ada senja di antara siang dan malam, ada perjuangan di antara hidup dan mati, serta hal-hal lain yang terselip di antara dua kata yang berpasangan.


Aku pecahkan balon hitam dan balon putih pemberian ibu. Aku mau beli balon dengan banyak warna, karena hidup bukan hanya bicara hitam dan putih

Thursday, January 13, 2011

Tidak Adil

 Bisa juga dibaca disini :
http://jejakubikel.com/2011/01/13/tidak-adil/


Tidak Adil


Wajah sahabatku dan calon suaminya masih saja cerah, padahal senja mulai beranjak malam dan kami sudah sibuk sejak pagi untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Aku salah satu panitia super sibuk yang bekerja suka rela demi perhelatan sakral itu. Hari ini adalah jadwal pemotretan  pre wedding. Sahabatku masih saja semangat meski telah berganti pakaian beberapa kali dan harus berpindah lokasi pemotretan sebanyak empat kali.


Sahabatku, sang perawan suci. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Ia gadis yang sangat rajin beribadah, sangat cerdas, berprestasi, dan yang paling penting, ia bisa menjaga keperawanannya hingga hari ini. Aku tidak iri jika saat ini ia menemukan pendamping hidup yang sepadan. Calon suaminya adalah putera pengusaha sukses di Jakarta, Sarjana Strata Dua lulusan luar negeri, tampan, gagah, cerdas, sopan, bersahaja. Kedua-duanya beruntung karena saling menemukan satu sama lain dan akhirnya berikrar sehidup semati. Aku bahagia melihat sahabatku bahagia, meski mungkin setelah pesta usai aku akan sulit bertemu dengannya, karena sang suami akan membawa sahabatku ke Eropa untuk menetap di sana.


Aku selalu takjub melihat aura pasangan yang akan menikah. Wajah kedua calon mempelai begitu cerah terpancar, mungkin karena kebahagiaan selalu meliputi hari-hari mereka. Terlebih wajah sahabatku yang masih perawan itu, benar-benar pangling aku dibuatnya. Meskipun selama enam bulan terakhir aku selalu menemaninya menyiapkan pesta pernikahan, aku tak pernah melihat sendu atau lelah itu singgah di wajahnya. Hingga hari itu tiba, hari dimana ia resmi menjadi seorang istri, sahabatku malah semakin cantik dengan pakaian pengantin yang anggun. Ia adalah ratu sehari tercantik yang pernah ku temui. Selama bertahun-tahun menghadiri pernikahan teman yang satu persatu mulai menikah, baru pada pernikahan kali ini mataku berkaca-kaca. Mungkin karena ia sahabat terbaikku. Mungkin karena aku tahu kami tak akan bisa lagi bersama-sama seperti dahulu. Mungkin karena upacara pernikahannya pun begitu syahdu hingga aku terhanyut haru. Atau mungkin karena aku menangisi nasibku …


Wednesday, January 12, 2011

Tak Butuh Pemberian Tahu

Bisa juga dibaca disini :
http://jejakubikel.com/2011/01/12/tak-butuh-pemberian-tahu/


Tak Butuh Pemberian Tahu



Angin sudah membisikkan padaku ke mana arah pergimu. Matahari telah menerangkan padaku dengan siapa kau menghabiskan harimu. Senja pernah mengabarkan, kepada perempuan mana kau selalu merindu. Tapi aku butuh pengakuanmu.

Di malam larut saat tak tahu ke mana harus mengadu pilu, aku berjalan tak tentu arah, membiarkan kaki kecil ini membawa tubuh mungilku. Tanpa meminta, aku justru melihat sosokmu. Mesra itu bukan bersamaku.

Aku menghubungi ponselmu, langsung kau terima. Aku bertanya di mana kau berada. Kau jawab singkat, “Kantor,” lalu ponsel kau matikan.

Aku langsung menemuimu yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Botol minuman yang kau pegang langsung kupukulkan ke kepalamu.
 
Kau selingkuh! Aku tak butuh lagi pemberian tahu.