Sunday, February 20, 2011

Dunia Dalam Genggaman Fashion

Bisa juga dibaca di sini :
Dunia Dalam Genggaman Fashion



Don’t judge a book by it’s cover, banyak orang setuju dengan pernyataan itu, kecuali saya. Disadari atau tidak, selama ini orang memutuskan untuk membeli atau minimal meminjam buku, sedikit atau banyak pasti terpengaruh oleh sampul buku tersebut. Saking pentingnya sampul sebuah buku, penulis rela membayar desainer cover untuk mempercantik bukunya, untuk membuat bukunya menarik bagi calon pembaca atau calon pembeli. Bahkan tidak sedikit orang yang sengaja kuliah desain grafis untuk bisa menjadi desainer cover profesional. Cover buku berkaitan erat dengan pengemasan buku. Selain editing dan lay out, cover adalah faktor yang cukup penting untuk menunjukkan bahwa buku tersebut diterbitkan dengan rapi, dengan profesional.

Ibarat buku, Fashion adalah cover bagi tubuh manusia. Kalau ada yang bilang, jangan menilai seseorang dari penampilannya, saya lagi-lagi kurang setuju. Saya sangat setuju dengan istilah ‘you are what you wear’. Buktinya, siapapun pasti bisa membedakan mana preman dan mana ustadz hanya dari pakaian yang dikenakan. Apalagi dalam hal profesi, penampilan seniman, artis, pengacara, hingga dokter, semua punya ‘fashion’-nya masing-masing yang sangat khas. Fashion membantu kita untuk mengidentifikasi, layaknya sampul buku. Fashion juga mampu menarik orang lain lebih dekat dengan kita. Fashion bahkan bisa membuat orang lain nyaman beriringan bersama kita.

Mungkin masih banyak orang yang menganggap bahwa Fashion adalah bidang yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang berpendidikan tinggi, berprofesi membanggakan, dan juga memiliki banyak uang. Fashion adalah sesuatu yang mahal, yang mungkin tak tersentuh orang-orang yang memilih hidup sederhana.  Padahal, Fashion sesungguhnya menurut saya adalah keterampilan mempadu-padankan sesuatu dengan hal lainnya agar tampak indah, tampak lebih rapi, layak untuk mendapat perhatian lebih lama. Dan ini tak hanya berlaku dalam penampilan tubuh.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas : Mode atau Fashion adalah gaya berpakaian (tetapi juga dapat termasuk masakan, bahasa, seni, arsitektur) yang populer dalam suatu budaya.
Dari definisi tersebut, kita tahu bahwa Fashion bisa diterapkan di bidang apapun. Sekali lagi, bagi saya, Fashion adalah keterampilan. Dalam penampilan fisik tubuh, fashion adalah keterampilan untuk mempadu-padankan baju dengan celana atau rok misalnya, lalu mencari kecocokannya dengan sepatu, tas, dan aksesoris yang digunakan. Tanpa kita sadari, sehari-harinya, tanpa kursus Fashion sekali pun, setiap orang sudah punya fashion-nya sendiri. Ketika setiap pagi ia memutuskan akan mengenakan baju model apa, warna apa, model rambut seperti apa, lalu aksesoris, tas, dan sepatu yang mana, itupun sudah merupakan aktifitas fashion. Jiwa seni ternyata ada di semua orang, hanya saja tidak semua orang menyadari atau bahkan mengakuinya. Fashion adalah seni. Keterampilan padu-padan.

Contoh Fashion di bidang lain, misalnya masakan. Tidak sedikit chef  Indonesia yang sengaja kuliah di luar negeri hanya ingin bisa menghias busa cappuccino dalam cangkir misalnya, atau hanya untuk menghias tampilan makanan agar lebih cantik saat disajikan. Teknik memotong buah, sayur, lalu mengkombinasikannya dengan main menu di atas piring, juga termasuk ke dalam Fashion (dalam bidang masakan).

Contoh Fashion di bidang arsitektur : Seorang Insinyur tak hanya memikirkan tentang konstruksi bangunan dan segala macam yang berhubungan dengan teknik membangun, tetapi juga harus memperhatikan nilai estetika agar bangunan yang dihasilkan selain kokoh juga indah dan menarik. Betapa bergunanya fashion dalam bidang arsitektur ini. Bahkan dalam hal mendesain eksterior dan interior pun, fashion berpengaruh sangat banyak. Keterampilan para desainer diuji, selera fashion-nya dipertaruhkan.

Fashion dalam bidang-bidang lain saja sudah demikian kompleks, apalagi kalau kita membahas fashion dalam bidang fashion itu sendiri. Ada desainer, model, mode, agency, industri kain, industri sepatu, industri baju, bisnis aksesoris, bahkan hingga ada bisnis konsultasi fashion, sekolah fashion, pagelaran fashion, hingga lomba-lomba mulai dari lomba merancang busana hingga lomba pemilihan model berbakat. Fashion bukan lagi kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup. Maka disadari atau tidak, kita sudah hidup dalam fashion, hanyut di dalamnya. Namun ada yang memilih untuk hanyut di arus yang biasa saja, ada yang memilih untuk hanyut dalam deras. Ini hanya masalah pilihan.

Kembali ke pembahasan don’t judge a book by it’s cover. Jika ada orang yang cuek dan anti fashion karena hidupnya memiliki prinsip tersebut, itu sah-sah saja. Lagi-lagi ini hanya masalah pilihan. Tapi bagaimanapun disangkalnya, Fashion itu ada, berpengaruh, dan sangat membantu peradaban manusia. Tanpa Fashion, gedung pencakar langit akan kaku dan dingin tak ada estetika. Tanpa Fashion, makanan tak akan menarik meski rasanya enak. Tanpa Fashion, pakaian, sepatu, tas, aksesoris hanya menempel di tubuh tanpa ada unsur keindahan. Fashion menunjukkan peradaban, memberi identitas, dan membantu menarik perhatian. Diakui, ataupun tidak.

Monday, February 14, 2011

Cinta Sepekat Cokelat

Bisa juga dibaca di sini :
http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/02/cinta-sepekat-cokelat.html


Cinta Sepekat Cokelat

Teruntuk Lelakiku,

Putus. Hanya satu kata itu yang terus aku pikirkan selama satu bulan terakhir bersamamu. Kita sudah berpacaran selama dua tahun. Dan selama dua tahun itu, tak pernah aku dengar dari bibirmu bahwa kau mencintai aku. Bahkan mengatakan bahwa aku cantik pun tak pernah. Aku memaklumi bahwa kau orang yang memang tidak romantis. Tapi mengungkapkan rasa sayang meski hanya satu kali, begitu beratkah? Aku ingat lagi saat-saat dulu kita mulai dekat dan akhirnya resmi jadi kekasih. Kamu memintaku menjadi kekasihmu hanya dengan satu kalimat pendek : “Jadian, yuk!”

Aku menerimamu saat itu karena memang sedang merasa kosong. Aku memang baru mengenalmu satu minggu, itupun dari dunia maya. Entah mengapa meski baru pertama kali bertemu langsung, aku merasa kta sudah lama kenal. Aku merasa cocok denganmu. Maka, ketika kau mengajakku kepada hubungan yang lebih dari teman, aku terima saja. Jalani saja, itu prinsipku kala itu!

Ya, akhirnya dua tahun berlalu tanpa terasa. Aku bisa bertahan dengan orang yang sama sekali tak romantis hanya karena kamu bisa menunjukkan kasih sayangmu dengan sikap dan perbuatan nyata, bukan kata-kata. Tapi tahukah kamu, kadang aku juga butuh ungkapan. Aku butuh pengakuan dari bibirmu yang mungil dan menggemaskan itu. Aku ingin kekasihku mengatakan aku cantik. Aku ingin merasakan hal-hal romantis seperti yang dirasakan pasangan lain. Candle Light Dinner, liburan ke pantai berdua, atau apapun, bukan hanya rajin sms dan telepon menanyakan kabar dan aktifitasku. Aku bosan, sayang … 

Dan, satu bulan lalu, saat aku mengutarakan hal ini padamu, kamu malah balik marah padaku karena menganggap aku terlalu mendramatisir keadaan. Kita pun bertengkar hebat, dan hingga hari ini, setelah satu bulan berlalu, tak ada satu pun diantara kita yang mau mengalah untuk menyapa duluan. Jadi sebenarnya siapa yang mendramatisir?


Surat itu terhenti. Aku masih bingung mau melanjutkan seperti apa. Aku malas menjelaskan lebih panjang lagi. Intinya aku mau putus. Itu saja. Satu bulan berlalu tanpa komunikasi, siapa bisa tahan?
Ponselku berbunyi. Nomormu tertera disana. Aku enggan menerimanya. Lebih dari 5 kali tak diangkat, kau mengirim pesan pendek.


***

Café di daerah Dago Pakar. City Lights Bandung menjadi pemandangan yang terhampar di depan meja kami. Meja yang hanya diterangi cahaya lilin itu sudah penuh dengan hidangan makan malam. Aku masih takjub dengan segala keajaiban malam ini. Untung aku mengenakan dress sehingga tidak terlalu malu berada di tempat ini. Aku tak tahu akan dibawa ke tempat se-romantis ini. Aku hanya memenuhi keinginannya yang ingin bertemu denganku malam ini, karena ada hal yang ingin dibicarakan. Lewat pesan pendek ponsel, ia katakan akan menjemputku. Aku tak tahu tempat ini yang disiapkannya.

“Ini yang kamu mau kan?” 

“Maksud kamu?”

“Ini. Candle Light Dinner, tempat makan romantis, apa perlu ditambah cincin dan aku melamarmu hingga kau menangis terharu?”

Aku benci melihat wajahmu. Kau memang menyuguhkan semua hal romantis malam ini. Tapi bukan begini caranya. Mengapa harus kau rusak suasana malam ini dengan kata-katamu?

“Kenapa kamu lakukan ini sama aku? Mau kamu apa?”

“Aku hanya mau memberikan apa yang kamu inginkan. Ini kan yang kamu inginkan? Sudah aku penuhi. Lalu sekarang apa?”

“Tapi bukan seperti ini. Bisa ga sih kamu ngertiin aku, dikit aja?”

“Ngertiin gimana? Aku udah nyiapin candle light dinner seromantis ini? Apa masih kurang?”

“Bukan ini yang aku mau,”
 
“Aku ga ngerti apa maunya kamu. Aneh!”

“Kamu emang ga akan pernah ngerti! Kita putus!”

Aku langsung pergi. Percuma! Kamu memang tidak punya niat untuk memperbaiki semuanya.


***

“Dira, ada Nicko,” Bunda mengetuk pintu kamarku.

“Ngapain dia kesini lagi?” aku bertanya dari dalam kamar tanpa membuka pintu.

“Ga tau tuh,” Bunda langsung pergi lagi.

Beberapa menit kemudian Bunda kembali mengetuk pintu. “Dira, buka pintunya sayang, ini ada titipan dari Nicko,”

Aku membuka pintu kamar.

“Nicko-nya mana, Bunda?”

“Pulang. Dia pamitan sama Bunda. Katanya mau ke bandara,”

“Bandara? Emang dia mau kemana?”

“Ga cerita tuh. Dia cuma nitip ini,”

Surat dan cokelat. Aku langsung membacanya.



Teruntuk perempuanku, 

Maafkan aku yang tak pernah bisa mengerti akanmu. Aku sudah berusaha memberikan apapun yang terbaik, tapi jika menurutku masih belum memenuhi apa yang kau harap, maafkan. Aku hanya seorang pencinta yang mungkin tak pernah tahu bagaimana cara membahagiakan perempuan. 

Bersama surat ini, aku memberikan sebatang dark cokelat. Itu simbol pekatnya cintaku padamu. Aku tahu kau tak pernah suka cokelat karena takut gemuk dan rasanya terlalu manis, bahkan cenderung jadi pahit kalau terlalu pekat. 

Cintaku padamu seperti cokelat itu. Tak kau sukai, tapi sesungguhnya menyehatkan bagimu. Sering-seringlah makan cokelat untuk menenangkan hatimu sekaligus menyehatkan tubuhmu. Tak banyak yang tahu kalau cokelat banyak mengandung enzim plavanoids yang sangat baik untuk kesehatan. Cokelat bisa menurunkan resiko serangan jantung, dapat menurunkan tekanan darah dan dapat resistensi insulin, serta dapat memperbaiki sirkulasi darah arteri. 

Itulah cintaku, sesungguhnya baik bagi hidupmu, andai engkau tahu … 

Aku tak bisa berkata lebih banyak karena memang tak biasa. Tapi semoga kau mengerti maksud suratku ini. Aku ingin mencintaimu dengan caraku. Maaf jika caraku salah…

Hari ini aku pergi ke Australia, melanjutkan pendidikanku. Kalau memang kisah cinta kita harus berakhir hari ini, aku terima. Tapi aku harap kamu mau mencoba makan cokelat dariku ini.
Aku pergi …



Aku mencoba menggigit cokelat itu. Manis. Aku menghabiskannya dengan tenang. Tak terasa cairan bening keluar membasahi dinding pipiku. 

Aku berjanji pada diriku akan rajin mengkonsumsi cokelat, demi kesehatanku. Ia mungkin akan pergi, dan entah kapan kembali. Aku juga tak tahu apakah hubungan kami masih bisa dipertahankan setelah ini. Aku sungguh merasa bersalah tapi aku tak tahu harus bagaimana.

Aku mencari surat yang pernah aku tulis untuknya. Aku buang ke tempat sampah setelah ku sobek-sobek kasar. Aku tak pantas menuliskan surat seburuk itu untuknya.

Ia pergi dengan meninggalkan cinta sepekat dan sesehat dark cokelat … aku akan sangat merindukannya …


Tuesday, February 01, 2011

Pertama dan Utama

Bisa juga dibaca di sini :
http://writingsessionclub.blogspot.com/2011/01/pertama-dan-utama.html

Pertama dan Utama


“Seribu sembilan ratus delapan puluh lima followers? Mendadak seleb kamu!” Dara, sabahatku, berkaca-kaca di depan laptopku. Entah pujian atau ejekan, kata-katanya begitu dalam. “Kok bisa sih?” ia melontarkan pertanyaan yang sesungguhnya juga ingin ku tanyakan kepada diriku. Aku hanya mengangkat bahu, menandakan tak sanggup menjawab pertanyaannya.
“Selama satu bulan terakhir sejak memenangkan lomba menulis online, setiap kali mengecek e-mail, selalu ada saja e-mail dari twitter dengan kata-kata : @blablabla is now following you on twitter.” aku mengungkapkan padanya apa yang ku alami.
“Wah, hebat. Mungkin mereka penasaran sama kamu karena kamu memenangkan lomba menulis itu, jadi ya mereka semua follow twitter kamu,”
“Mungkin,”
“Kok kamu seperti yang ga senang gitu? Kalau aku ada di posisi kamu, pasti aku bahagia banget deh. Mendadak seleb gitu. Seperti jargonnya Miss Indonesia : Semua Mata Tertuju Padamu. Ya ampun, aku pasti bangga. Baiklah, sekarang juga aku bangga dan bahagia, ternyata sahabatku yang merasakannya. Lalu mengapa sahabatku sendiri justru tidak bahagia?”
“Entahlah,”
Aku membiarkan sahabatku antusias di depan laptopku. Mengutak-atik akunku, menjerit setiap membaca mention-mention lama yang masuk ke akunku hingga hari ini, membaca tweet-tweet dariku yang banyak di-retweet orang lain. Dia masih terkagum-kagum dengan kenyataan yang ada, sedang aku, masih bingung dengan apa yang aku rasa. Apakah ini yang benar-benar aku cari? Apakah ini yang benar-benar membuatku bahagia?

***

Satu tahun lalu,
“Aku yakin kamu bisa jadi penulis best seller. Penerbitnya aja yang bego, masa karya sebagus ini ditolak?” kekasihku Ferdy mendadak emosi saat melihatku kembali ke mobilnya dengan naskah novel yang ditolak oleh penerbit. Sudah empat bulan naskah itu tak ada kabar, maka kami memutuskan untuk kembali menemui penerbit, menanyakan langsung bagaimana keputusan penerbit atas draft novel tersebut.
“Kita coba cari penerbit lain saja. Mungkin memang karyaku tidak sesuai dengan visi-misi mereka,” aku mencoba lapang dada.
Kekasihku menyalakan mesin mobilnya, lalu mobilnya melaju meninggalkan kantor penerbit ternama yang ku harapkan mampu membawa karyaku sampai ke pembaca di seluruh Indonesia. Harapanku kandas, kekasihku kecewa.
Untunglah sejak hari itu ia masih saja menemaniku. Ia masih saja mendukung karya-karyaku. Ia tak lelah menemaniku bertemu penerbit-penerbit lain.
Hingga saat ke-lima kalinya karyaku ditolak penerbit, aku justru mendapat pekerjaan di luar negeri. Aku meninggalkannya dengan berjanji akan terus menulis dan terus mengirimkan tulisanku via e-mail padanya, agar ia bisa terus meng-apresiasi karyaku. Aku bilang aku akan berhenti mengajukan karyaku untuk diterbitkan oleh penerbit mainstream di Indonesia. Aku hanya ingin terus menulis walaupun tak akan pernah terbit.
Kekasihku tetap mendukung meski ia berharap aku tetap berada di Indonesia dan terus berjuang bersamanya untuk menembus penerbit mainstream di Indonesia. Dia selalu yakin aku bisa. Dia selalu percaya suatu saat aku akan bisa menjadi penulis ternama. Aku percaya dukungannya bukan hanya karena aku kekasihnya, tapi karena dia tahu aku tidak serius menjalani ini semua.
Beberapa bulan berpisah jarak, masalah demi masalah muncul dan akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.

***
“Ada masalah apa, Luna? Sejak memenangkan lomba menulis itu, sampai hari ini, kamu tidak pernah terlihat bahagia, selalu gelisah, seperti terus memikirkan sesuatu. Ada apa?” sahabatku, Dara, mulai menanyakan kebingunganku.
“Kalau boleh jujur, aku tidak pernah ikut lomba itu,”
“Apa?” sahabatku terkejut.
“Iya, aku tidak pernah ikut lomba itu?”
“Tapi, tapi …,” sekarang sahabatku yang bingung.
“Cerpen itu memang karyaku. Tapi aku tidak pernah mengikutsertakan cerpen itu untuk lomba menulis online yang sekarang melambungkan namaku,”
“Makanya aku mau nanya, apa kamu yang mengikutsertakan karyaku?”
“Bukan. Ya ampun Luna, aku saja baru baca karyamu setelah menang,”
Aku menghela napas berat. Cerpen itu belum pernah aku publikasikan, bahkan di blog pribadiku. Aku baru mengirimkannya kepada satu orang, dan itu : mantan pacarku.
“Apa mungkin dia?” aku bergumam sendiri.
“Dia? Dia siapa?”
Aku langsung menyalakan laptop, mengaktifkan Yahoo Messenger :
[putri_luna]           :    Apakah ini semua ‘ulah’mu? Aku mendadak terkenal sekarang.
[ferdy_funkeh]      :    Akhirnya kamu sadar. Apa kabar?
[putri_luna]            :   Apa maksudnya semua ini?
[ferdy_funkeh]       :   Aku hanya ingin membantumu dikenal dunia
[putri_luna]             :   Untuk apa masih peduli dengan kehidupanku?
[ferdy_funkeh]   is offline.

Aku mengepalkan tangan tanda geram. Mengapa dia pergi sebelum menjelaskan semuanya?
“Ada apa sih, Luna?”

***

Keesokan harinya aku menerima e-mail dari Ferdy :

Dear Luna,
Maaf atas kelancanganku mengirimkan cerpen yang kau kirimkan padaku ke panitia lomba menulis online itu. Tak ada maksud apa-apa selain ingin membantumu maju. Aku adalah fans pertamamu sejak aku tahu kekasihku dulu bisa menulis. Kau sadari atau tidak, akulah yang paling setia membaca, memuji, bahkan kadang tak segan mengkritisi karya-karyamu. Aku juga yang paling sedih ketika melihatmu ditolak penerbit. Aku tahu kau akan bisa menggapai impian yang selalu kau sampaikan padaku, hanya saja kau harus berusaha lebih keras dan Tuhan sedang mencari waktu yang tepat untuk membuatmu dikenal banyak orang.
Aku rasa ini jalan Tuhan juga. Tuhan menggerakkan aku untuk mengirimkan karyamu ke panitia lomba itu dan akhirnya menang. Aku melakukannya karena menghargai karyamu yang memang sudah seharusnya mendapat tempat layak. Tak ada hubungannya dengan hubungan percintaan kita. Aku memang pernah sayang padamu tapi jika memang harus berpisah, mungkin itu yang terbaik. Aku hanya ingin tetap menjadi fans pertama dan utama di hatimu. Fans yang selalu mendukung karya-karyamu. Maaf jika caraku salah.




Aku menangis haru membaca e-mail itu. Tak bisa lagi berkata-kata.