Wednesday, April 11, 2012

Akuisisi, Suatu Kebanggaan atau Kehancuran?

Ada dua pagi yang mengejutkan sepanjang sejarah saya menjadi jurnalis Kompas Tekno. Pagi mengejutkan yang pertama adalah saat Yahoo (akhirnya) mem-PHK 2000 karyawannya. Dan pagi mengejutkan yang kedua, adalah hari ini, saat Facebook memutuskan mengakuisisi Instagram senilai 1 miliar dollar AS.

Kedua berita ini tampak tak berhubungan, namun, ada benang merah yang bisa ditarik, yakni isu akuisisi. Seperti diketahui sebelumnya, Koprol adalah jejaring sosial berbasis lokasi yang diakuisisi Yahoo Inc pada tahun 2010. Saya sempat mewawancara Satya Witoelar, pendiri Koprol saat perusahaan ini sedang bangga-bangganya diakuisisi. Bahkan Presiden SBY pun sempat mengungkapkan kebanggaannya terhadap akuisisi ini.

Berikut link-nya :
Koprol, Sebelum dan Sesudah Akuisisi dengan Yahoo


Kini, setelah Yahoo Inc memutuskan untuk mem-PHK 2000 karyawannya secara global, tim engineering Koprol sebanyak 29 orang pun ikut terpangkas. Mereka tak lagi dapat mengurusi Koprol, termasuk pendirinya, Satya.

Saya pun berkesempatan wawancara via telepon dengan Satya, seperti dikutip dalam berita ini :
Pendiri Koprol Tak Tahu Nasib "Anaknya"


Entah mengapa, sejak awal Koprol diakuisisi, timbul pertanyaan dalam benak saya :
1. Bagaimana rasanya melepaskan "anak" yang lahir dan besar dari tangan kita?
2. Bagaimana rasanya melihat "anak" kita diasuh orang lain?
3. Bagaimana rasanya, jika suatu hari mengetahui bahwa "anak" itu terancam tak bisa hidup lagi?


Tapi, mungkin saya saja yang terlalu "lebay" memandang akuisisi ini dan selalu berpikiran negatif. Padahal, akuisisi adalah hal yang biasa bagi industri teknologi. Sebelum Facebook mengakuisisi Instagram, sudah banyak contoh lainnya seperti :

Zynga Akuisisi Draw Something
 
Blackberry Akuisisi Paratek

Google Akuisisi Motorola Mobility

Microsoft Akuisisi Skype

Twitter Akuisisi Posterous


Akuisisi tentu dilakukan untuk menambah nilai perusahaan dan meraup keuntungan lebih besar. Kembali ke kasus Yahoo Inc, apabila Koprol dianggap tak lagi meningkatkan nilai perusahaan dan membantu menyelamatkan masa depan perusahaan, bukan tidak mungkin Koprol sebentar lagi akan "almarhum".


Lain halnya dengan Instagram. Jejaring sosial untuk sharing foto yang jaya di iOS lalu masuk Android ini, sebelumnya tak pernah menghasilkan uang sama sekali. Meski memiliki 30 juta pengguna di seluruh dunia, Instagram tak pernah menerima iklan maupun tidak menarik biaya apapun dari pengguna. Untuk mwndownload Instagram pun gratis.

Darimana karyawan Instagram bisa bertahan hidup? Instagram memiliki investor yang kuat. Keterangan tentang ini, bisa disimak dari tulisan saya berikut ini :
Kini Karyawan Instagram Lebih Mahal daripada Karyawan Facebook


Pada dasarnya Instagram tak pernah butuh uang. Tanpa diakuisisi Facebook pun, Instagram akan tetap hidup. Lalu mengapa pendiri Instagram menerima uang 1 miliar dollar AS dari Facebook dan rela melepaskan aplikasi yang mereka asuh selama hampir 2 tahun itu?




Dan Facebook, untuk apa membeli Instagram yang hanya digunakan oleh 30 juta orang? Sedangkan Facebook sendiri sudah memiliki lebih dari 800 juta pengguna di 200 negara?

Seperti diketahui, aktifitas pengguna Facebook paling banyak adalah berbagi foto. Sistem tag foto di Facebook sempat booming pada awal tahun 2005 hingga 2008. Ketika Instagram muncul di tahun 2010, banyak orang mulai menggunakan aplikasi ini untuk mengambil gambar, mengedit, lalu membagikannya di jejaring sosial, termasuk Facebook.

Keberadaan Instagram kemungkinan mengancam keberadaan Facebook. Jika Facebook berperan sebagai jejaring sosial untuk berbagi foto, maka jejaring sosial yang terus tumbuh seperti Instagram adalah saingan berat. Ditambah lagi, pengguna Instagram terus bertambah secara signifikan setiap tahunnya.


Alih-alih berkompetisi, Facebook memilih cara aman, yakni mengakuisisi. Apa jadinya, jika Facebook membeli Instagram hanya untuk mematikannya?

Semoga saya salah sangka.






Saturday, April 07, 2012

Berkarya dengan Cinta

Lagi-lagi saya menghadiri bedah buku. Kali ini atas penugasan dari editor Kompas Female.

Sejak awal baca undangan bedah buku ini, saya sudah tertarik dengan judul acaranya : yakni membahas buku yang isinya tentang Berkarya dengan Cinta.

Dan saya tidak menyesal menghadiri bedah buku ini.

Hasil liputan saya, bisa dibaca di link-link berikut :

23 Episentrum, Kisah Ambisi dan Passion

Mimpi Adenita dengan Para Sahabat




Dalam postingan blog kali ini, saya tak akan secara gamblang membedah Buku 23 Episentrum, karena pembahasan tentang buku ini sudah lengkap di artikel saya di link-link tersebut.

Yang ingin saya bahas adalah tentang esensi dalam buku ini, yakni menceritakan orang-orang yang Berkarya dengan Cinta.

Saya akan mulai dengan kutipan dari Adenita, sang penulis buku ini :

"Tantangan itu akan selalu ada, tapi jika yang dijalani adalah sesuatu yang kita cintai, energi dan kebahagiaan tidak akan kemana. Klise? Tidak. Saya sudah melihat dan mengalaminya sendiri. Hidup memang memerlukan uang, namun uang tidak dapat membeli kehidupan," - Adenita


Pernyataan ini hampir mirip dengan ucapan mendiang Steve Jobs :

Sometimes life hits you in the head with a brick. Don't lose faith. I'm convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You've got to find what you love. 


Ya, menemukan apa yang dicintai dan melakukannya dengan sepenuh hati adalah kenikmatan luar biasa. Saya salah satu orang yang sudah merasakannya. Saya sangat mencintai dunia kepenulisan, terutama jurnalistik dan sastra. Meski harus digempur habis dengan kritik sana-sini, saya tak berhenti menulis karena saya telah menemukan apa yang saya cintai.




Demikian pula Adenita. Setelah 5 tahun menjadi penyiar radio, Adenita sang penulis buku 23 Episentrum memilih terjun ke dunia penulisan karena ternyata ia menemukan apa yang cintai : kegiatan tulis-menulis. 

Setelah merampungkan buku pertamanya, 9 Matahari, Adenita akhirnya menyelesaikan buku ini. Yang saya salut dari buku ini adalah satu buku terdiri dari dua buku, yakni Novel dan Suplemen. Meski terdiri dari dua buku fiksi dan non fiksi, namun benang merahnya sama : Berkarya dengan Cinta. 

Buku 23 Episentrum adalah bukti bagaimana seorang Adenita berkarya dengan Cinta. Buku bersampul pink, Novel, ia persembahkan untuk sang Suami sebagai hadiah pernikahan. Sedangkan buku bersampul biru, ia persembahkan untuk 23 sahabatnya yang memiliki beragam profesi namun ia tahu betul teman-temannya itu mengerjakan profesinya dengan Cinta. Profil ke-23 sahabatnya itu ia kompilasikan dalam buku suplemen ini.

Ada kisah tentang seorang guru, pilot, praktisi event organizer, bahkan anchor news yang akhirnya menemukan profesi yang mereka cintai, meski tidak direstui orang tua dan meski latar belakang pendidikan mereka juga tak sama dengan profesi yang digeluti sekarang.

Ke-23 orang itu, ditambah sang penulis, akhirnya menemukan kebahagiaan hidup, setelah menemukan apa yang dicintai. Pada akhirnya, mereka bisa terus Berkarya dengan Cinta, mungkin sepanjang hidupnya. Jadi bukan bekerja untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau mencari status sosial. 

Bukankah itu indah?

Percayalah, saya juga sudah membuktikannya. Meski harus bekerja di luar jam kerja orang normal, meski harus terus menulis setiap hari, saya sangat menikmati profesi sebagai jurnalis dan penulis. Maka, menghadiri bedah buku ini dan merasakan atmosfer Cinta dari orang-orang yang mencintai pekerjaannya, sungguh nikmat luar biasa. 

Apakah Anda sudah menemukan apa yang Anda cintai? Mari bergabung bersama kami ^_^



Friday, April 06, 2012

Tulisan di Kompas.com dengan Pembaca yang Membludak (Edisi Maret 2012)


Ya, seperti yang sudah saya janjikan di awal tahun, setiap bulan saya akan memposting tulisan-tulisan saya di Kompas.com yang pembacanya membludak (minimal dibaca 10 ribu kali).

Kali ini adalah artikel-artikel saya yang dibaca lebih dari 10 ribu kali (total 18 Artikel) :

Tembok Besar Bolong, Warga China Pesta Internet   (21 ribu)

Tangkap 25 Hacker Anonymous, Interpol Jaga Ketat Websitenya   (14 ribu)

Gadis Iran Berontak dengan Menyanyikan Lagu Adele di Youtube  (44 ribu)

Acer Pamerkan Ultrabook dan Laptop Terbaru di CeBit   (11 ribu)

Akuisisi Paratek, BlackBerry Bakal Lebih Kencang dan Hemat Baterai  (15 ribu)

Chip Buatan IBM Sanggup Download 500 Film HD per Detik  (18 ribu)

iPad Mini Bikin Takut Produsen Tablet 7 Inci   (12 ribu)

Pelamar Kerja Dipaksa Serahkan Password Facebook   (15 ribu)

Pendiri Friendster : Yahoo.Meniru, Facebook Pemilik Sah   (20 ribu)

Beda Riasan Dukun Manten dan Make-up Artist    (Pertama kalinya artikel saya di Kompas Female tembus dibaca hingga 15 ribu kali)

Seorang Samurai Ikut Antre iPad Baru di Jepang    (30 ribu)

Warga Indonesia Ikut Antre iPad Baru di Singapura   (12 ribu)

Calon Karyawan yang Dicari Perusahaan TI   (11 ribu)

Ini Dia Orang Indonesia Pertama Pemegang Triple CCIE   (32 ribu)

Wanita Taiwan Bunuh Diri Sambil Chatting di Facebook   (11 ribu)

Google Resmi Berkantor di Indonesia  (16 ribu)

Google Indonesia Buka Lowongan Kerja   (52 ribu)

Ini Dia Orang Nomor Satu Google Indonesia  (55 ribu)